Monday, May 30, 2011

Mainan Baru Nak Kuliahan, Asus A45F-VX085D

Filled under:

Ketika saya kuliah, maka saya harus memiliki laptop. Begitulah rencana saya sewaktu di SMA, meskipun orang-orang sudah banyak yang punya laptop, tapi bagi saya kalau masih belum terlalu dibutuhkan kenapa harus repot-repot. Nah, beda lagi kalau mau kuli ah (kuli = kerja kasar), pasti butuh laptop juga. Siapa tau nanti kalau anda jadi kuli bangunan, butuh penahan pintu, bisa pake laptop tuch. Kalau jadi supir bus, terus ada tanjakan, bisa tuh jadi penahan ban. Ya kan laptop dirancang dengan teknologi tinggi untuk membantu pekerjaan manusia,hahaha (gak gitu juga kali ya)

Kembali ke lap....TOP,
Nah, setelah selesai UN dan diterima di UI Farmasi, dalam masa pengangguran sambil menunggu daftar ulang, ternyata ayahku menawarkan untuk membeli laptop sekarang. Katanya biar pemanasan dulu laptopnya, jadi tar pas kuliah udah siap bekerja keras. Awalnya ku dalam benakku, beli laptop tidak harus saat sekarang, ketika pemanasan pantat sebelum tar menduduki singgasana pembelajar di kampus. Tapi, nanti saja lah ketika kampung halaman menjadi tempat yang dirindukan, yakni saat buku baru dibuka bersama kehidupan baru. Jikalau ayahku telah berucap demikian, terpikirkan olehku bahwa makna dari penawaran ini adalah ayah telah siap untuk menumpahkan sedikit pengeluaran yang telah dicampur dengan biaya daftar ulang untukku.

Alhasil, survey pun dilakukan. Tak urung, laptop-laptop yang dipajang bak para peragawati menjadi tempat yang memancing mataku tuk melirik dan menyapa. Kutanya pada penjaga yang berdiri sambil memegang sebuah kalkulator dengan rambut agak panjang. Setelah kita diberi sebuah lembaran menu hidangan laptop yang tersaji, ada dua nama yang membuatku tertarik. Mbak Toshiba dan Teh Asus. Tapi belum ada keputusan yang meyakinkan hati tentang siapa yang akan menjadi pendampingku mengerjakan tugas sewaktu kuliah. Kutanya pada seorang teman yang lebih tau tentang gadis teknologi. Menurutnya Teh Asus lebih bagus dan bisa dipercaya. Melihat harga, teh Asus lebih murah (Asus A42F). Dan Toshiba harganya lebih mahal 2juta. Otakku pun kembali mengolah data-data yang masuk berdasar pada tujuan mencari siapa yang lebih pantas menjadi pendamping. Mbak Toshiba mempunyai RAM 4GB, sehingga bisa berlari jauh lebih kencang, apalagi masalah maen-maen, pasti jagonya.hahaha cuma teh Asus juga ternyata lumayan, RAM 2GB, VGAnya 729, meski maennya tak sejago toshiba yang bisa maen-maen dengan game apapun. Tapi spec segitu cukup untuk bermain PES 2011. Alhasil, kereteg hate memilih pada teh Asus karena faktor untuk tidak memberatkan orang tua (2juta bukan uang sedikit, itu bisa dipake bayaran 2 tahun lebih sewaktu SMA),

Terpilihlah teh Asus untuk menjadi pendamping tugas-tugasku. Eh ternyata waktu ditanya kepada wali dari teh Asus, teh Asusnya tidak ada. Setelah bertanya kepada tetangga sebelah dari tempat dimana Asus tidak ada, yang ternyata lebih bisa dipercaya, ada (memesan kepada yang tidak bisa disebutkan namanya karena tidak tahu). Terpinanglah teh Asus yang bernama lengkap ASUS A42F-VX085D dengan biodata sebagai berikut (dari http://www.kliknklik.com/1225-asus-a42f-vx085d.html) :


Platform Notebook PC
Processor Type Intel Core i3 Processor
Processor Onboard Intel® Core™ i3-350M Processor (2.26GHz, Cache 3 MB)
Chipset Intel HM55
Standard Memory 2GB DDR3 1066MHz SDRAM
Max. Memory 2 x 4GB (2 DIMMs)
Video Type
  • Intel® Graphics HD up to 729MB
Display Size 14" WXGA LED Crystal
Display Max. Resolution 1366 x 768
Display Technology LED backlight
Audio Type Integrated
Speakers Type Integrated
Floppy Drive Optional
Hard Drive Type 320GB Serial ATA 5400 RPM
Optical Drive Type DVD±RW SuperMulti DL
Networking Integrated
Network Speed 10 / 100 Mbps
Wireless Network Type Integrated
Wireless Network Protocol IEEE 802.11b, IEEE 802.11g, IEEE 802.11n
Keyboard Type QWERTY 82 keys
Input Device Type Touch Pad
Card Reader Provided SD, MMC, MS
Interface Provided 3x USB 2.0, VGA, HDMI, LAN, Audio
O/S Provided Pre-sales Request Available
Battery Type Rechargeable Lithium-ion Battery
Power Supply External AC Adapter
Weight 2.2 kg
Standard Warranty 2-year Limited Warranty by ASUS Indonesia
Bundled Peripherals Optional
Package Contents Contents may vary

Tampilan :

Posted By Andika Galih Priadi5/30/2011

Thursday, May 26, 2011

Tak Harus Superman Tuk Jadi Super

Filled under:


Di balik kekuatan yang besar, akan selalu ada tanggung jawab yang besar. Begitulah yang kakek peter parker katakan sebelum meninggal. Dan akhirnya Peter pun yang tiba-tiba saja punya kekuatan spesial, langsung mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjadi pahlawannya seisi kota.

Teringat pada film tersebut, dalam kehidupan kita tentunya kita mempunyai kekuatan kita masing-masing. Akulah superman, dan kaulah supermanku. Semua orang superman. Petani itu superman, karena dia telah berjasa menyediakan beras bagi makan kita. Guru itu superman, karena atas keikhlasannya berbagi ilmu kita dapat mempunyai ilmu. Banyak lagi superman-superman.

Meskipun superman itu hebat, tapi aku yakin superman itu pasti capek dan ingin istirahat. Andai kekuatanku adalah matematika dan fisika (di SMA), aku merasakan bagaimana beratnya menanggung beban dan stigma tertentu dari teman dan guru-guru. Jago Matematika, Jago Fisika, Master dan sebagainya. Apa itu membanggakan? Tentu, tapi di balik itu dari lubuk hati yang paling dalam aku ingin menjadi orang biasa.

Semakin hebat pengaruh kekuatan yang kau miliki, pasti semakin berat beban yang kau bawa. Peternak kalau salah dalam berbicara pasti hanya akan ditertawakan oleh kambing-kambingnya, tapi kalau pejabat salah bicara bisa-bisa ditertawakan oleh lawan-lawan politiknya karena masuk penjara. Inilah hidup. Ketika kau berada di atas angin, maka cukuplah terpeleset agar kau bisa patah tulang karena jatuh dari ketinggian. Tapi kalo orang biasa-biasa yang cuma berjalan di WC, terpeleset paling cuma lecet dan sedikit memar.

So, kalau kita tidak punya kelebihan. Maka kita tidak sepatutnya untuk rendah diri, tapi hendaklah kita bersyukur karena masih ada orang yang diberi tanggung jawab itu sehingga kita masih bisa bersantai. Tapi kita juga jangan menjadi orang yang seperti tanpa tujuan. Kita harus punya mimpi tuk mengejar seseorang, karena dengan begitu kita akan berkembang menjadi orang yang lebih hebat dan kelak kita punya tanggung jawab untuk kita jaga

*kualitas tulisan ini kurang menarik. Aku merasakannya,hehe maaf ya lagi isenk-isenk mengawali nulis-nulis lagi

Posted By Andika Galih Priadi5/26/2011

Friday, May 6, 2011

Cewek 18 tahun nikah? Siapa takut...

Filled under:


3 Mei 2011, ketika orang-orang seusianya sedang khawatir menunggu hasil pengumuman SNMPTN Undangan 2011 termasuk aku, ternyata ada sms masuk dari seorang sahabat lama yang mengatakan bahwa pada tanggal 5 mei 2011 teman seangkatan akan menikah. 25:75 antara tidak percaya dan percaya, tapi sepertinya mengingat bagaimana ia menjalani hari-harinya, aku rasa hal yang biasa saja kalau ternyata dia menikah di usia 18 tahun. Toh, dari semenjak SMP pun, kita kan selalu berkumpul dan mengobrol bersama-sama, dan dia juga dipanggil bunda soalnya yang paling dewasa.

Akhirnya 5 Mei 2o11, mendekati pukul 14.00 aku bertolak menuju lokasi, namun seperti biasa menunggu pasukan yang ternyata pasukannya komplit pukul 15.40. Kalau dipikir, ke undangan pukul empat, sepertinya parasmanannya sudah bubar. Soalnya pernikahan biasa jam 3 udah beres.

Setelah pasukan lengkap, pasukan berangkat menuju lokasi. Oiya, sekolah teman tersebut sebenarnya pada hari tersebut mengadakan perpisahan yang ternyata tak kalah banyak orang dengan pernikahannya. Pantas saja siswa-siswanya memakai jas dan siswi-siswinya memakai kebaya. Gak nyambung ya?? Jas Vs Kebaya..

Sewaktu pasukan tiba, kita berjumpa dengan beberapa orang yang juga sedang ngelayad, maksudnya ngehadiri pernikahannya yang juga teman-teman kami. Seperti pernikahan pada umumnya, aku dan pasukan langsung menuju ke pelaminan dan mengikhlaskan tangan bersih kami bersentuhan dengan tangan-tangan pengantin yang dari pagi telah menyalami beratus-ratus orang sehingga jika dibayangkan telah terkontaminasi beragam bakteri dari beragam tempat yang berbeda. Ah suka lebay. Intinya kita masuk dan bersalaman. Sang pengantin perempuan yang tak lain adalah teman kami berpakaian persis gaun pengantin Princess Kate Middletown, yang dipotong 2m dari 3m panjang gaunnya. Sementara itu pengantin pria bak siswa sekolahan yang sedang mengadakan perpisahannya, apa kesasar gitu ya?? Soalnya dia pakai celana hitam, berdasi dan pake jas pula. Sudahlah jangan dipikirkan.

Sang pengantin tidak bercerita banyak hal, yang pasti dia mengenalkan bahwa pasangannya itu dari Banten. Sementara itu sang pria kalau tidak sibuk foto-foto, dia buka hape dan smsan. Smsan sama siapa ya?? Mencurigakan...hahaha.

Tak banyak cerita yang terucap, sebagian besar gelombang suara yang keluar yang aku terjemahkan adalah tentang canda dan tawa. Lidahnya sangat lincah dan dia berkicau, tapi jujur aku melihatnya memang telah dewasa. Pantaslah, kalau tidak mana mungkin dia menikah. Aku sendiri tak banyak ucap, aku hanya menangkap canda dan tawa yang muncul dengan seksama dan hanya sedikit respon atau senyuman. Entah mengapa aku sendiri merasa tak nyaman dan kurang menyatu dengan situasi. Ya mungkin karena aku sama sekali tak ditanya, dan meski si pengantin itu suka meledek, tapi ia tidak pernah meledekku. Bahkan memanggilku pun sama sekali tidak selain sewaktu penularan bakteri saja.

Dia seusia denganku 18 tahun, tapi dia telah melangkah beberapa tahun lebih cepat dari kita. Untuk seorang wanita, hal tersebut tidak masalah karena kelak yang menanggung rumah tangga adalah sang suami. Tapi kalau kita lelaki, aku rasa lebih baik kalau kita mengejar mimpi kita terlebih dahulu, minimal kalau kita punya mobil mersi putih lalu jalan-jalan ke desa, masa iya tidak ada yang mau diajak keliling..hehe

Akhirnya kita pulang karena jarum jam telah menusuk-nusuk tubuhku untuk segera bangun dari duduk, karena aku belum sholat. Berangkat jam 2, dan saat itu sudah setengah 5, tentunya belum shalat Ashar.

Alhasil, perjalanan hari itu suatu hal yang baru. Tapi bagiku sama sekali tidak berkesan. Meski bertemu teman-teman SMP juga buku lama, tak ada keterlibatan emosi antara aku dan situasiku saat itu. Yang ada aku hanya berfikir bahwa aku merasa tidak dianggap. Meski sebenarnya aku ingin berbicara dengan buku lama minimal untuk sedikit buka gambar-gambar yang dulu pernah mewarnainya, tapi kondisi tidak memungkinkan.

Cewek 18 tahun nikah?? Gak masalah tuch. Waktu kelas 3 SMP ada yang keluar dan menikah. Waktu beberapa bulan menjelang UN SMA, ada yang keluar dan menikah. Waktu perpisahan di sekolahnya, ada yang menikah. Bahkan temen laki-laki yang sewaktu berusia 16 tahun ada yang sudah menikah. Bagiku itu tidak masalah toh kita kan memiliki mimpi yang berbeda-beda, itu adalah mimpimu dan aku pun punya mimpi yang akan aku kejar selalu. Semoga mimpi-mimpi kita tercapai, karena SEMUA BERAWAL DARI MIMPI

Posted By Andika Galih Priadi5/06/2011

Wednesday, May 4, 2011

2 Minggu Menjelang Pencoretan Satu Mimpi

Filled under:

Akhirnya setelah UN selesai, setidaknya satu beban di pundak telah lepas. Kini selain kelulusan yang kunantikan adalah indahnya namaku yang tercantum sebagai siswa yang LULUS dan DITERIMA di Universitas Indonesia.

Hari ini aku bermimpi diterima di Universitas Indonesia. Mungkin kelak mimpi itu akan berganti dengan mimpi yang lain. Mimpi untuk 2 minggu lebih lagi. Selama 2 minggu pula pengangguran hampir menjadi kata yang cukup pantas untuk ditempelkan dijidatku. Kalau pun ada kegiatan, sebatas kegiatan untuk menyibukkan diri dan mengaktifitaskan diri agar tidak terlalu penat.

Mimpi?? Terkadang kita percaya pepatah "semua berawal dari mimpi", tapi terkadang selalu ada pula yang mengolok-ngolok "ibarat mimpi di siang bolong". Di situlah kurasa arti dari keseriusan mimpi kita diuji. Awalnya ku tak berani bermimpi, karena toh tanpa mimpi aku dapat sedikit mencium aroma kesuksesan. Aku baru berani bermimpi dan meyakinkan diriku bahwa itu mimpiku setelah mendapatkan berbagai renungan motivasi dari motivator-motivator yang telah aku jumpai dan juga dari para inspirator yang selalu menawarkan tangga untukku agar terus naik.

Terinspirasi dari Danang AP, sang pembuat jejak dari IPB. Kumencoba untuk menuliskan apa yang aku impikan, dan tak akan malu tuk menceritakannya baik dalam tulisan di blog ini ataupun secara langsung.

Sepertinya tulisan saat ini sedikit tidak teratur. Aku menganggapnya sebagai pemanasan karena telah beberapa bulan tidak menulis hal-hal yang bersifat apa yang terfikirkan. Semoga saja tulisan-tulisan berikutnya tentang apa yang terfikirkan akan lebih baik, karena aku yakin bahwa NEOGALIH akan menjadi saksi tentang kesuksesan-kesuksesanku yang kesemuanya itu berawal dari mimpi.

Posted By Andika Galih Priadi5/04/2011