Friday, June 10, 2011

Satu Kendaraan Sama 3 Banci, Oh My God. Perjalanan Yang Menyeramkan

Filled under:

Hari itu tanggal 31 Mei 2011, saat sang bulan mau berganti pakaian. Telah terukir sebuah rencana untuk segera menginjak tanah UI di Depok, karena ada suatu proses Registrasi Administrasi yang harus diselesaikan selaku mahasiswa baru pada tanggal 1 Juni 2011. Menginap satu malam di kamar Kang Septian, sehingga saat fajar menyingsring (ih jorok, maksudnya saat matahari mulai ABG dan suka nguntap ngintip,hahaha). Diulang, sehingga saat fajar menyingsing tak harus ada petualangan panjang lewati gunung, sungai dan lembah hanya untuk daftar ulang. Alhasil dimulailah persiapan menuju suatu petualangan.

Sekitar pukul 13.00 WIB semua perlengkapan perang telah masuk dalam ransel dan dengan segera kulangkahkan kakiku menuju pinggir jalan raya nan jauh disana. Kulewati jalan kecil, pepohonan, warung, pabrik kotoran (WC yang di luar), mesjid, rumah lagi, pamoean (tempat moyan padi), sawah, rumah lagi, warung lagi, bengkel, kolam, sawah lagi, sungai, dan akhirnya sampai juga di pinggir jalan. Perjalanan panjang tersebut memakan waktu kira-kira 5 menit, sungguh perjalanan yang melelahkan.

Akhirnya, bak orang mangkal aku nunggu di pinggir jalan, sambil bersia-siap tuk melambaikan ke setiap kendaraan yang lewat. Tak berbeda dengan orang mangkal, kulambaikan tanganku seperti orang yang sedang mendribling bola basket tanpa bola basket. Orang mangkal melambai ke mobil-mobil pribadi, kalau aku melambai ke angkutan umum. Sebenarnya tak lama sich, sebuah mobil bernomor punggung 19 dengan kostum biru langit akhirnya terlihat dari kejauhan. Kunaikkan kakiku ke dalam angkot, dan kalian tau cerita bagaimana orang dalam kendaraan. Tatap kesana, lirik kesini, liat jalan, melamun dan akhirnya sampai pula. Aku harus berterima kasih kepada angkot tersebut karena tanpanya mungkin perjalanan ini jauh lebih lama. Makasih-makasih, mana ongkosnya??

Kulanjutkan ke angkot kedua, kali ini dengan seragam putih ijo. Dan sekitar pukul 2 kurang beberapa ratus detik aku tiba di Cibadak. Langsung aku menuju sebuah colt dengan tujuan Bogor. Dan beruntung, colt tersebut sudah cukup penuh. Sekitar 900 detik kemudian akupun berangkat. Disinilah hal paling menyeramkan dalam hidupku terjadi, untuk pertama kalinya aku melihat pria paling jantan se-Cibadak dengan langsung. Mereka bertiga, dan ketika mereka naik, semua orang dalam angkot tersentak diam. Apalagi seorang bapa yang duduk pinggirku yang paling dekat dengan salah satu dari mereka. Wajahnya tegang, sambil agak menunduk. Aku dalam hati hanya bisa tersenyum di atas penderitaannya, karena berkat beliau aku selamat. Ma'lumlah, pria-pria berbadan seksi itu sukanya sama pria berewokan.hahaha

Meski aku sempat tertawa, aku sebenarnya takut. Mending duduk deket preman daripada deket banci. Duduk deket preman paling cuma dompet yang hilang, tapi duduk dekat banci bisa-bisa dompet ilang sama celananya. Eh harga diri juga nyangkut kebawa di celana. Menyeramkan. Makanya aku cuma pegang hape dan sms ke beberapa teman

Untungnya petualangan menegangkan tersebut hanya sebentar. Di Parungkuda mereka turun. Dan tak elak semua penumpang tertawa dengan puas. Aku sendiri mengucap syukur, karena kondisi saat itu yang sangat panas sungguh membuatku khawatir akan meningkatkan panas mereka (panas = hot),hahaha

Dan perjalanan pun berlanjut dengan tenang. Pengalaman yang takkan terlupakan, untuk pertama kalinya melihat di depan mataku.

Posted By Andika Galih Priadi6/10/2011

Saturday, June 4, 2011

Menyeramkankah Kuliah di Farmasi?

Filled under: ,

Saat ini, ketika bumi berselimutkan kegelapan malam. Kuberkelana menjelajahi gerbang dunia. Setelah aku diterima di Farmasi UI, aku merasa tergantung dalam suatu kepenasaran yang tak nyata. Berkelana ku ingin membaca kisah-kisah pejuang-pejuang farmasi yang telah belajar lebih dahulu dari aku. Sebagian cukup menurunkan agresiku menjadi seorang yang sukses dalam bidang farmasi.

Semakin kubaca dengan sapuan mataku melintasi setiap paragraf dari cerita itu, setidaknya telah membocorkan motivasiku secara perlahan. "Farmasi itu sibuk, banyak praktikumnya, hafalannya lebih tinggi dari kedokteran, buku resepnya setebal lebih dari 10 cm juga berbahasa inggris." Bahkan ada yang bersyukur karena telah lulus dan tidak akan lagi melewati hari-hari bersama farmasi. Bagaimanakah sebenarnya farmasi itu?

Aku merenung membuka gambaran beberapa hari yang lalu saat registrasi administrasi untuk menjadi mahasiswa UI. Saat memasuki stan fakultas, dan aku memasuki stan fakultas mipa dan disambut oleh kakak-kakak dari Farmasi karena aku farmasi. Perbincangan pun dimulai bersama teman-teman mahasiswa baru Farmasi dan kakak-kakak kelas tentang pengalaman serta BOPBerkeadilan. Salah satu yang sedikit mengecawakanku adalah tentang dihapuskannya mata kuliah Matematika Dasar dan Fisika Dasar di jurusan Farmasi sesuai kurikulum terbaru. Bagaimana tidak, sebenarnya di SMA aku merasa sedikit berhasil dan sukses dalam dua mata pelajaran tersebut. Terbukti dengan dipercayanya aku untuk menjadi perwakilan OSN Matematika SMA sewaktu kelas X, perwakilan untuk lomba cerdas-cermat Matematika waktu kelas X juga, kemudian aku pindah ke OSN Fisika sewaktu kelas XI yang lumayan berhasil mendapat prestasi, kemudian masih dipercaya juga untuk mewakili LCC matematika waktu kelas XI. Entah apa yang mendorongku memilih farmasi sebagai bidang yang akan menjadi sumber penghidupanku. Padahal, tidak pernah terfikir olehku untuk memilih farmasi.

Waktu PPKB pun saat aku daftar, aku memilih jurusan Teknik Elektro yang berdasar pengetahuanku, berhubungan sama matematika dan fisika. Tapi karena dicanangkannya program baru tentang SNMPTN undangan oleh Mendiknas, tiba-tiba saja terlintas di fikiranku untuk masuk farmasi. Aku berfikir tentang kerja yang mempunyai prospek yang bagus, juga bisa bermanfaat bagi masyarakat. Akhirnya Farmasi pilihan kesatu, dan Teknik Elektro pilihan kedua. Ternyata dengan mudahnya Allah memudahkanku masuk ke Farmasi. Dan begitulah semua orang bertanya kenapa jadi farmasi, termasuk guru-guru yang mengenalku.

Oleh karena itu, ketika dijelaskan sedemikian rupa tentang Farmasi. Motivasiku bocor, farmasi itu biokimia. Jadi konsep-konsep kimia dan biologi sangat kental. Wah, padahal aku sendiri tak pernah terfikir untuk bergelut terutama dalam biologi, alasan utama aku menolak untuk memilih kedokteran.

Pak Adam, guru kimia juga sempat bercerita tentang suatu materi perkuliahannya sewaktu kuliah, yang berhubungan sama kimia. Harus kuat hafalan, bapa pun katanya dapet C di mata kuliah tersebut. "Kajeun ngitung sakali, tibatan kudu ngapalkeun mah", kucoba untuk menyiram dan menyegarkan sendiri dengan mengatakan, ya kalo 4 tahun kuliah pasti bisa pa. Padahal dari lubuk hati yang paling dalam aku berfikir, kuat gak ya.

Dari kuat menghitung, sekarang beralih ke hafalan, hal yang sedikit agak kujauhi karena sama sekali tak mengasyikkan. Tapi apadaya, inilah jalan yang ternyata terbuka begitu mudahnya untukku. Dan kini aku harus membuktikan terutama kepada teman-teman yang sama-sama mengincar farmasi, yang kalah oleh anak MatFis. Kucuri mimpi orang, dan kini akupun ragu apakah aku sanggup. Tak apalah, teknik elektro karena aku ingin membuat robot. Ternyata tak harus menjadi teknisi elektro untuk membuat robot, jadi aku beruntung mimpiku untuk membuat robot masih bisa kukejar. UKM robotik adalah satu yang menjadi targetku, selain sukses di Farmasi. Ketika sudah lulus, kan keren. Seenggaknya kata temanku aku menjadi seorang PLAYBOY SAINS, karena sudah Matematika dan Fisika, tapi kuliah di BioKimia yakni Farmasi. Rasanya pengalaman yang takkan tergantikan, bagaimana juwetnya ngotak-ngatik angka dan logika, ngebayangin gaya-gaya, vektor-vektor yang bergerak pada suatu bidang, ngebayangin gerak, kalkulus dan sebagainya. Dan selamat tinggal itu semua, kini kalian takkan menjadi penentu kehidupanku, tapi kalian adalah sahabat terbaikku yang telah mengantarkanku menemui Farmasi. Aku tak berharap melupakan kalian, terutama matematika. Karena dengan Matematika otakku terasah, dengan Fisika aku analisa alam dan peristiwa di sekitarku, dan kelak dengan Farmasi aku hidup, berkeliling dunia, bahkan mungkin menjadi profesor. Kalian akan selalu di hatiku. Karena aku telah membayangkan tentang seorang apoteker, yang jago ngitung dan bisa bikin robot.

Bagaimanapun farmasi itu, setidaknya kakak dari Farmasi menghibur dengan mengatakan "dosennya cantik-cantik, dsb". Tak berpengaruh apa-apa, tetap saja Farmasi itu Farmasi karena Farmasi, bukan dosen. Sepenasaran apapun aku tentang farmasi hari ini, pintu masih tertutup dan aku hanya tau dari perkataan orang. 2 bulan lewat beberapa minggu lagi aku akan membuka pintu itu sendiri, dan kelak aku akan membuktikan tentang benar tidaknya cerita orang.

Posted By Andika Galih Priadi6/04/2011