Saturday, December 29, 2012

Maaf Mentari, Janjimu tak Kupenuhi. Ku tak datang menyambutmu di pagi hari

Filled under:

Terbangun disambut senyumnya sang mentari. Meski pagi telah menggelitik sejak tadi, aku menjawab dengan tak pasti. Dengan senyuman tak berarti, dengan gerakan tak menyentuh. Ku berjanji pada matahari untuk datang, namun entah mengapa pagi ini tak seperti biasanya.

Hingga akhirnya seorang sahabat memanggilku, akankah kau memenuhi janjimu pada mentari. Rasanya kala itu suaranya terdengar begitu jelas, namun tubuh memberi jawaban dengan tidak memberi jawaban. Tubuh begitu tak berdaya, entah mengapa, bahkan mata pun seakan tak mengalah untuk tetap terpejam. Otak pun mengalah dan memberikan sedikit waktu untuk memenuhi apa yang belum terisi.

Akhirnya jam menunjukkan pukul 10.30. Terbangun, dengan seutuhnya. Dan lewat sinarnya yang menyusup di antara dedaunan yang begitu rimbun, mentari menitipkan sebuah pesan. Sebuah kekecewaan, karena kutau sinarnya tak seperti biasanya. Karena janji untuk menyambut mentari di pagi hari tidak terpenuhi. Mentari hanya minta untuk disambut di pagi hari, namun bahkan ku tak memenuhi.

Iya, itu salahku. Pagi ini terasa tak seperti biasanya, salahku karena kemarin aku terlalu asyik menemani malam. Hingga pagi begitu berat. Hingga pagi ku terlambat menyambut mentari. Maafkan aku wahai mentari, aku harap kau mengerti, engkau sahabat terbaik sang bulan, dan malam begitu setia bersama bulan. Semoga bulan menyampaikan yang terbaik, wahai mentari..

Untukmu, kucoba mengejar. Tak perlu kutitipkan pesan balasan, kembalilah wahai sinar kepada yang mengirimmu. Dan kucoba menjawab dengan sebuah jejak. Berlari, aku berlari. Tak perlu sarapan, pagi ini. Karena ku tau, itu hanya akan membuatmu semakin tinggi, semakin jauh. Berlari, meski jejak malam ini masih terlihat di kelopak mataku. Yang terpenting tidak terlambat..

Akhirnya tiba di sebuah pilihan. Menanti angin, ataukah kupanggil burung untuk mengantar ku menuju langit itu. Entah mengapa, angin di pagi ini sedikit jarang menampakan kehadirannya. Mungkin di hari-hari ini angin sedang mengembara untuk memberikan penyegaran bagi yang mencarinya. Akhirnya kupanggil sebuah burung dengan sebuah alunan merdu nada dari suara mulut yang kubuat. Suaraku jelek, iya memang jelek tapi setidaknya burung mendengar.

Aku pun terbang, dan terus terbang hingga tiba di langit itu. Dengan seucap makasih dan sedikit biji kuberi sebagai bentuk terimakasih untuk burung yang telah mengantarku. Aku pun berlari menuju ke tempat mentari berada. 

Mentari masih ada, iya mentari masih ada. Untunglah mentari masih ada. Dia menatapku dengan sinarnya. Entah itu masih sebuah kekecewaan apa hal lain. Namun aku tak peduli, entah aku memenuhi janjimu atau tidak, tapi aku telah datang wahai mentari. Dengarlah lewat apa yang kulakukan untukmu.

Posted By Andika Galih Priadi12/29/2012

Thursday, December 27, 2012

Selalu ada alasan untuk menulis

Filled under:

Bagaimana pun, menjadi apa pun kapan pun dimana pun, selalu ada alasan untuk kembali, untuk kugores lewat seucap cerita. Saat kesibukan menjadi coretan untuk digores dalam setiap agenda harian, dan hanya tersisa sedikit waktu untuk menghela nafas, tetap rasa ini ingin selalu kembali.

Terkadang lupa, memang karena tugas tugas perkuliahan memenuhi hari sementara agenda lain tak pernah henti menyelimuti, memang lupa. Tapi terkadang, dari rasa yang terlupa itu selalu muncul kerinduan akan rasa ketika menulis. Memang tulisan tak berarti apa-apa, tapi selalu ada hal indah yang terjadi saat menulis dan terciptanya sebuah tulisan.

Selalu ada alasan untuk menulis

1. Ada dua orang teman yang punya pemahaman orang yang suka menulis adalah orang hebat.Tak ada salahnya meyakini itu, karena setiap orang itu hebat, dan harus tetap hebat.

2. Entah, setiap ku membaca sebuah cerita, sebuah tipe tulisan, terkadang hati selalu terpancing untuk menulis kembali. Terutama ketika tersiramnya kembali mimpi untuk menulis sebuah buku. Tidak tahu kapan itu akan terlaksana, yang pasti suatu saat aku pasti akan menulis sebuah buku... Meski kemampuan menulis ku masih jauh dari orang hebat, pasti akan tetap belajar untuk menjadi penulis hebat.. Seorang farmasis tidak harus selalu menulis buku tentang obat, pastinya keren kalau menjadi farmasis yang jago nulis..

3. Respek yang diberikan dari orang-orang terhadap blog ini cukup baik, terima kasih kepada teman-teman, para pembaca yang selalu memberikan apresiasi terhadap tulisan saya. Itu selalu menjadi angin segar, dan penyemangat untuk tetap berkarya.

4. Tak ada masa lalu dan masa depan untuk berkontribusi. -Azhar
Maka ketika perjalanan menjadi seorang mahasiswa super dijalani, menulis akan seperti minum di kala kehausan. Selalu ada rasa segar. 

Dan saya tau, hari ini tidak akan semudah hari kemarin. Esok selalu lebih berat. Tapi Insyaallah esok pun akan lebih baik, selalu yakin bahwa kita adalah orang yang diciptakan dengan penuh potensi, untuk menjadi manusia yang bermanfaat dan berguna. Tetap berkontribusi! Tetap optimis! Amanah Oke! Prestasi Oke!

Karena kita adalah pemenang!
Harus selalu yakin! Bisa! Insyaallah!

Lagi ujian, baru aja ujian mikrob, dan besok ujian farkol. Jadi mohon doanya juga supaya ujiannya lancar ya, dan LULUS SEMUA!.. AMIINNN

Amiinnnn

Posted By Andika Galih Priadi12/27/2012

Thursday, December 13, 2012

Setangkai Mawar Putih

Filled under:

Selalu indah ketika langit begitu biru, selalu megah ketika senyum saling bertemu, selalu merah ketika wajah sedang tersipu. Saat berdiri menatap cakrawala, menantang siang, kau bisa memilih untuk merasakan bahwa siang begitu panas, mentari begitu menyengat, menggerogoti kesegaran, merenggut semangat untuk bertualang. Disisi lain kau bisa memilih untuk merasakan bahwa dengan mentari yang menemanimu, maka bayangannya di balik cakrawala begitu mempesona, berjuta warna begitu menggoda, menatap sejuknya sebuah senyuman, membawa kebermanfaatan bagi tumbuhan, melukis cerahnya hari, menyelimuti kita dengan keindahan.

Seperti keindahan sebuah senyuman, indah, bukan karena diberikan dari orang yang indah, tapi senyuman itu diberikan dengan cara yang indah dari hati yang indah. Yang terindah memang pasti indah, tapi yang indah belum tentu jadi yang terindah.

Andai indah itu disandingkan dengan setangkai mawar putih, maka keindahan yang hakiki bukan karena setangkai mawar itu sendiri. Dalam sebuah taman mawar, semuanya begitu indah. Indah karena keindahan tidak berdiri sendiri, bukan karena sebuah bunga maka kita sebut itu indah, tapi karena bunga-bunga yang indah berdampingan membawa keindahan yang benar-benar indah.

Itulah kebersamaan yang membawa pada keindahan. Tapi jika hanya setangkai apakah itu tetap indah?

Setangkai itu indah karena tidak hanya setangkai. Tapi karena kau titipkan kepada bunga itu berbagai perasaan baik itu cinta, perasaan, kesungguhan, ketulusan, kejujuran dan rasa-rasa positif lainnya.

Iya itu indah, saat seseorang mengungkapkan perasaan cintanya dengan setangkai mawar putih.
Iya itu indah, saat seseorang mengungkapkan rasa maaf, kesungguhan, ketulusan, kejujuran dan atau apapun itu melalui sebuah mawar putih.
Iya itu indah. Bahkan ketika seseorang berniat pergi, dengan kesedihan yang dititipkan lewat setangkai mawar putih. Itu tetap indah.

Karena hati akan bertemu dengan hati, hati mendengar hati. Hati yang kau titipkan dalam setangkai mawar putih untuk mengirim seuntai kata, akan sampai pada hati yang kau tuju.

Karena hati hanyalah hati, maka pastikanlah hati ini tetap mendengar pesanmu wahai mawar putih, dari siapa yang mengirimmu. Pastikanlah hati ini bisa tetap percaya, bahwa yang mengutusmu memberikan pesan yang bisa dipertanggungjawabkan, yang bisa melukis senyuman yang benar-benar senyuman.

Karena hati harus berhati-hati, maka pastikanlah ketika hati ini telah tersenyum, jagalah senyuman itu. Jangan sampai senyuman itu kembali tergores. Karena senyuman begitu indah, jagalah senyuman ini agar kelak bisa bertemu dengan senyuman-senyuman yang lain di suatu waktu yang kita nantikan..


Posted By Andika Galih Priadi12/13/2012