Monday, April 29, 2013

Semua tak seperti yang dibayangkan

Filled under:

Saya jadi inget percakapan saya dengan seorang teman beberapa hari lalu, waktu itu lagi serius membahas masalah ke depan gimana. Terus saya bercerita soal kendala, kendala yang selalu menjadi kendala bagi saya adalah pikiran saya sendiri. Saya selalu memikirkan sesuatu berlebihan.

Saya ambil sebuah contoh, ketika memegang amanah untuk mabim. Kira-kira apa yang dipikirkan kalau kamu memegang amanah besar? Ya terkait amanah itu sendiri. Tapi terkait amanah itu sendiri saya melibatkan angkatan dalam pelaksanaannya. Tapi ada 1 ketakutan yang amat menggila waktu itu, bayangkan saja, semenjak terpilihnya saya, sampai ke pleno pertama saya selalu berfikir ketakutan, saya harus berbicara seperti apa di depan angkatan, saya gak pernah berani ngomong di depan orang banyak, saya harus gimana, saya panik sekali.. Tapi semua kepanikan itu tidak terlihat karena wajah saya yang begitu polosnya.

Lalu, ketika semua telah dilewati, ternyata ga ada masalah berarti toh. Pas saya ngomong, orang-orang ga lempari saya sepatu, saya bisa ngomong kok. Ya saya bisa ngomong, mereka mengerti apa yang saya bahas,  saya bisa ngomong, yakali ga bisa ngomong.. yeeeyy.. Dan di pertemuan pertemuan berikutnya, alhamdulilah tidak ada kepanikan sepanik yang pertama. Ini berkat bimbingan dan jorokan dari ketua angkatan juga. Terimakasih pak ketua angkatan..

Sewaktu saya ceritakan kisah itu kepada teman saya tadi, dia tersenyum, oh gak, dia tertawa, oh gak, dia ngakak, oh lebih parah dia ngakak ampe megangin perut buncitnya. Alhamdulilah setidaknya memberi kebahagiaan kepada orang lain, meski sial, teman ini bahagia sekali...

Begitu lah saya, dalam setiap hal baru, saya selalu takut.. -_- Padahal ga bakal kenapa-kenapa, tapi sepertinya tetap seperti itu. Jadi buat saya, semua begitu menyeramkan sewaktu dibayangkan. Bayangin aja bisa bikin terasa atmosfernya, deg-degan.. Padahal SEMUA TIDAK SEPERTI YANG DIBAYANGKAN

Posted By Andika Galih Priadi4/29/2013

Sunday, April 28, 2013

Injeksi Semangat Baru lagii

Filled under:

Saat itu terik matahari begitu panas menggerogoti kesegaran yang selalu kami idam-idamkan. Ya, begitulah kondisi margonda siang hari. Tapi ada yang berbeda di terik siang hari ini, ada kesejukan yang tidak biasa. 

Hari ini keluarga datang berkunjung, ayah ibu dan adek. Keluarga, tiba kemarin malam minggu sekitar pukul setengah sepuluh malam. Jadinya kamar petak 3x3 + kamar mandi 1,5x1,5 pun terasa seperti luas, seperti di rumah dengan hangatnya keluarga di dalamnya. Jadi beginilah kondisi kamar kosan saya, luasnya 3x3 meter, terus ada kamar mandi, masuknya dari dalam kosan, lewat pintu jangan lewat dinding. Berbeda dengan 2 kamar tetangga yang kamar mandinya ada di luar kamar. 

Malam pun menjadi lebih hangat. Dan esok hari pun begitu bersinar terang. Di pagi hari, orang tua berkunjung ke sanak keluarga yang ternyata jaraknya tak jauh dari kosan saya, namun memang saya tak pernah bertemu. Ya jelas, ibu bertemunya 18 tahun yang lalu, dan waktu itu saya belum tau apa-apa, masih sangat polos, imut dan manis (ya bayi 2 tahun, imutlah.. Sekarang masih ga ya?). Jadi kalo ditotal umur saya sekarang 18 + 2 = 17 tahun. Ya sweet seventeen lah, apalgi kemarin baru ultah.. Jadi begitu..

Lalu dikala orang tua bersilaturahmi, apa yang saya lakukan dengan adek saya? Ya, seperti biasa kami battle. Tapi biasanya battlenya ngePES, tadi sedikit berbeda. Pertandingan kali ini yakni siapa yang paling lama tidur. Gila, perjuangan saya keras banget untuk terus tidur, yah akhirnya kalah deh. Pas orang tua nyampe, saya langsung kebangun. Saya menyerah, gak kuat lagi. Sementara adik, masih tidur sampai bener-bener dibangunin. *sebenernya kebalik, berjuang untuk bangun berat banget, soalnya semalem begadang..hehe

Jadi agenda penting berikutnya adalah menonton bioskop. Setelah berdiskusi mau jalan-jalan kemana, keputusan akhirnya jadinya nonton bioskop. Maklum, di sukabumi ga ada bioskop. Jadi biasanya pasangan muda-mudi sukabumi kalo mau nonton bioskop, mereka pergi ke bogor. Nah, karena sekarang di depok, banyak bioskop, jadi ya nonton deh.. Katanya udah lama juga ga nonton bioskop.

Pilihan filmnya kan ada dua, mau iron man 3, apa 9 summers 10 autumns.. Tadinya mau iron man, cuma jam 6 kebagiannya. Itu pun duduk paling depan. Gak kebayang bro duduk paling depan, terus harus baca subtitle. Bisa-bisa leher saya jadi kayak mike tyson, leher besi karena bolak-balik baca subtitle sambil nengadah ngacay ngeliat filmnya..

Kami pun nonton 9 summers 10 autumns. Luar biasa sekali bung, filmnya begitu inspiratif. Seru. Gak salah deh nonton film itu. Ada nilai-nilai yang bisa diambil. Dan ada kesedihan tersendiri ketika menonton film itu. hiks hiks, ada beberapa hal yang membuat saya merindukan masa-masa jadi montir (baca : tukang bongkar rumus)..

Setelah itu orang tua pun pulang, dan saya pun kembali ke kosan melanjutkan hari seperti sedia kala..

Selalu menjadi injeksi penyemangat baru tentang perjuangan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, ketika ada orang tua. 

Selamat menempuh esok yang lebih cerah lagi..




Posted By Andika Galih Priadi4/28/2013

Berharap Berkarakter Seperti Apa?

Filled under:

Aduh cuy, saya selalu rindu untuk menulis, menulis sebuah cerita yang begitu menarik. Saya jadi kepikiran kata-kata untuk mempersering ngetwit, entah alasan pastinya seperti apa, tapi ya namanya alasan kan ga ada yang salah. Jadi inget pertanyaan-pertanyaan waktu oprek, pasti ditanyain alasan, kenapa milih bidang ini? Pasti jawabannya begitu argumentatif dengan analisis yang begitu membuat pendengar lupa mingkem. 

Saya jadi menangkap, sebenarnya kita, semua orang, termasuk saya, termasuk blog ini, harus punya karakter. Bagi saya, itu memang keharusan. Itulah kenapa saya menulis ini. Di dini buta ini (maaf din maksudny setengah 2 pagi), saat sang ayam jantan masih nunggu bekernya nyala buat kongkorongok, saya kepikiran dan kangen untuk nulis dengan style gaya bebas. Ya selain karena gaya punggung gak bisa, gaya kupu-kupu gak lucu, gaya bebas seperti ini lebih bisa mengeksplor sisi kreatif saya, harapannya. Siapa tau jadi profesor kan nanti (amiin), meski ga nyambung cuy..

Saya merasa penjara pikiran membuat tulisan-tulisan saya jadi dipenjara di kamar mandi, terus lampu dimatikan dari luar, pintu dikunci, terus akhirnya teriak-teriak ketakutan karena kaki basah, padahal dia ga nyadar kalo itu air kencingnya saking paniknya karena lampu gelap. Ya, ketika saya ingin menulis, saya biasanya sedang memikirkan suatu hal yang akhirnya terinspirasi untuk dituliskan sesuai dengan kondisi pikiran saya, namun tidak ingin secara terang-terangan menceritakan itu. Alhasil, terciptalah sebuah tulisan-tulisan yang semi puitis gajelas. 

Sebenarnya saya sukanya gado-gado. Katanya sih tulisan saya menarik, punya sesuatu yang mungkin bisa disebut X-Factor kali ya, tulisan-tulisan waktu di blog SMA (kalau mau baca, ada kok di blog ini, liar arsip aja :D). Tapi ya produktifitas penulisan waktu itu hanya sebatas dan serajin pas depan komputer doank. Dan itupun hanya kelas 2 doank. Padahal tulisan saya hanya sebatas ceng-cengin ketua kelas dan cem-cemannya, bully ketua kelas dan teman-teman lainnya, dan berputar-putar soal cerita yang ada di kelas. Tapi entah, ketika hati telah ikut menari bersama jari dalam mengetik, rasanya itu menarik, seru. Semua keluar dengan begitu mudahnya, mengalir kata demi kota, gombalan demi gombalan, ledekan demi ledekan, candaan demi candaan, ya itu mengalir dengan mudah.

Modal nulis ngelantur di blog, terus dibikin sedikit elegan waktu nulis bahasa Indonesia. . Ini agak bangga dikit gak apa-apa lah ya, kapan lagi ngebanggain diri sendiri, -_- hobinya memenjara diri sendiri dengan ketakutan-ketakutan kan sekarang mah. Lanjut. Nah, semua siswa dikasih gambar, insyaallah gambarnya masih senonoh kok. Terus disuruh menulis dari gambar itu, ya sesuai kemauan kita. Saatnya sepik lah berarti, ngarang. Saya dapet gambar mobil. Gak ngerti lagi, saya menulis sesotoy mungkin. Padahal mobilnya biasanya-biasanya aja, ya sotoy aja desain menarik bla-bla-bla, ya karena terbiasa berekspresi dari blog juga jadi slowlah, waktu 10 menit meski bentar tapi sudah cukup untuk mengisi setengah halaman. Setidaknya lebih baik daripada teman-teman yang bingung, "ini tulis apaan? bingung-bingung"..

Kisah diteruskan, Terus disuruh tuker-tuker, terus kasih nilai dari 1-4 kalau gak salah ke nilai orang. Ya rata-rata dibaca oleh 8 orang lah. Nah yang dapet 5 angka 4, udah bagus kata ibunya. Jempol lah, termasuk kategori oke, terlepas waktu ngasih penilaiannya itu dikasih cireng atau nggak sama penulisnya. (nyogox, ga lah bercanda). Nah, ternyata, saya diperiksa 9 orang dan semua-muanya 4 nilainya. Dan baru tau ga ada yang ampe lebih dari 5 dapet angka 4nya. Akhirnya ibunya suruh bacain, dan dengan suara seksinya, saya pun membacakannya. Ya disitulah ibunya bilang, bahwa saya punya potensi, terus kembangkan. Itu seperti tamparan yang terasa indah. Indah karena pujian memang melenakan, tamparan karena harus belajar lagi. Gitu cerita bangga-banggaannya dikit. 

Terus selang bberapa bulan, saya dipanggil. "Kamu, ikut lomba nulis ya!". ya oke oke sajalah, kapan lagi ikut lomba nulis, sekali-kali lah, bosen ikut lomba montir mulu (bongkar-bongkar rumus). Dan sialnya, ternyata itu lomba ngarang cerpen basa Sunda coba, saya orang sunda, saya bisa bahasa sunda, tapi saya bukan penulis bahasa sunda. Dan guru basa Indonesia itu pun kaget,hahaha Tapi ya ga masalah, saat semua latihan, ada yang latihan dongeng, latihan apalagi ya lupa, saya seperti dianaktirikan. *yaeyalah. Pas mereka latihan, dikomentari kayak Indonesian Idol gitu, soal ekspresi, intonasi, artikulasi, isolasi, ekstraksi, maserasi dan lain-lain sama guru seni yang juga seniman sunda. Ya saya, cuma disuruh membuat sebuah karangan tentang ini. Saya pun ngarang, nulis. Sampai lombanya berlangsung, tulisan saya tak pernah dikomentari, tak pernah ada yang baca juga kecuali ibu saya.Dan ibu pun pas baca tulisan, dari ekspresi muka sepertinya dia mikir "ini anak nulis apa, kok kayak gini banget", ya udahlah saya tak pikirkan, saya punya kekuatan dalam tulisan karena itu saya harus lanjutkan. 

Tanpa sepatah masukan, dan nasehat dari siapapun, artinya hanya sejauh kemampuan saya sendiri yang saya kembangkan bermodalkan pengalaman menulis ngaco di blog, saya pun dengan gagahnya ikut lomba. Liat kanan kiri, gila penulis hebat.. Liat depan belakang, wah penulis hebat. Gak masalah. Akhirnya lomba dimulai, selama 2 jam (apa 3 jam, lupa), saya harus menulis tentang cerpen objek wisata di Sukabumi. Oiya saya lupa, waktu itu saya taunya ini karangan, bukan cerpen. Jadi sempet tersesat di satu halaman folio (bayangin, ibarat pendahuluan sebuah tulisan, saya 1 halaman nulis karangan), baru nyadar setelah itu di halaman kedua saya mulai mengarahkan ke sebuah cerita. Ya maksa sih, tapi daripada saya coret yang 1 halaman sayang banget. Wah ini alurnya bukan cerpen banget, masa pendahuluannya satu halaman folio jadinya, sama sekali ga ada cerita, cuma deskripsi-deskripsi ujung genteng doank. Untungnya pas masuk ke cerita, saya gunakan kemampuan saya untuk berekspresi, sedikit dibumbui dengan sesuatu yang bisa menarik (mudah-mudahan). Alhamdulilah dua jam kelar

Lalu juara berapa saya? Saya juara 3 bung.. Ibu saya ampe nanya berkali-kali, "serius ka?", saking ga yakinnya.. Serius ga serius yang penting dapet hadiah bu 250rb,hahaha dan ternyata dari semua cabang lomba yang SMA saya wakili, hanya saya yang dapet peringkat.

Gitulah cerita-cerita bagaimana tulisan saya ditemukan dan akhirnya menghasilkan upah 250 ribu.

Dan sekarang, tulisan-tulisan itu udah ga ada. Saya ingin punya karakter, dan saya ingin mengembalikan karakter tulisan saya ke tulisan-tulisan waktu itu karena disitu titik lebih saya. Semoga tulisan-tulisan berikutnya, bisa melatih dan mengembalikan potensi menulis yang dulu sempat punya.

Ya memang visi blog ini saya buat untuk menjadi cerita yang dibaca untuk menginspirasi kelak adek-adek yang mau masuk farmasi. Ibaratnya pas ngetik farmasi, langsung muncul "baca blog ini, blog anak farmasi", tapi eh ujung-ujungnya cuma tulisan-tulisan pergulatan pikiran doank. . Jadi insyaallah, semoga saya tertarik kembali untuk menulis-menulis seperti waktu itu..

Posted By Andika Galih Priadi4/28/2013

Hanya Bermimpi, tanpa Bertahan

Filled under: ,

Aku pernah bermimpi, untuk kuliah di salah satu perguruan terbaik negeri ini. Dan kini aku adalah seorang mahasiswa Universitas Indonesia.
Lalu, perjuangan untuk menjadi mahasiswa sejati tidaklah mudah, perlu perjuangan keras, bahkan hingga hari ini untuk bisa bertahan menjaga akademis tetap baik. 

Aku pernah bermimpi, untuk mempersatukan seluruh Mahasiswa Sukabumi yang berkuliah di UI, meski selalu terfikir bahwa Sukabumi dekat, mahasiswa Sukabumi UI haruslah bersatu. Dan kini, telah ada sebuah paguyuban dengan nama BUMI (Baraya UI Sukabumi).
Lalu, perjuangan untuk bertahan konsisten pada mimpi tidaklah mudah. Maka, kuberikan mimpi ini untuk mereka yang hebat menjaga BUMI ini tetap bersatu. Karena kalian lebih hebat.

Aku pernah bermimpi, untuk mempersatukan farmasi asrama menjadi sebuah keluarga. Untuk saling membantu dalam orientasi dan akademis. Maka lahirlah sebuah keluarga farmakopas yang tetap dekat hingga ini.
Lalu, asrama pun berakhir dan semua terpisah. Dan untuk bertahan, berkumpul dan tetap menjaga persaudaraan, kuantitas waktunya tidak sefleksibel kala di asrama.


"Suksesnya sebuah mimpi itu, semudah kau meyakininya"
Namun tetap :
"Meraih itu memang susah, namun Bertahan itu jauh lebih susah"


Posted By Andika Galih Priadi4/28/2013

Wednesday, April 24, 2013

Surat dari Andika untuk Galih - tentang Milad

Filled under:


Selamat Milad, Galih!

Hari ini genap kau mencapai umur 20 tahun, Alhamdulilah masih diberi umur panjang oleh Allah SWT dan semoga setiap waktu yang dihabiskan seiring berjalannya umur bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi tempat dimanapun engkau berada, galih.

Di antara segala macam euforia yang ada seiring bertambahnya usia, perlu disadari bahwa kau tak muda lagi, galih! Saatnya untuk serius menapaki jalan yang tepat yang mengarah pada tujuan yang jelas.

Ini pembicaraan tentang kita, galih! Sebelum kau mulai berfikir tentang dunia, tentang keluargamu di rumah, tentang orang-orang terdekatmu, tentang keluarga-keluargamu di farmasi, saudara-saudara seperjuangan, jangan dulu kau fikirkan galih. Lupakan tentang orang lain terlebih dahulu. Aku ingin bicara tentang kita..

Galih, ingatlah usiamu sekarang 20 tahun. Kau akan benar-benar menjadi seorang manusia, setelah semua proses pendewasaan ini, kau akan menentukan jalanmu sendiri. Sadarkah itu? Berapa banyak waktu yang kau buang dalam kesia-siaan selama ini. Tak berarti bahwa hidup tidak boleh bersenang-senang, tapi waktu perlu diatur sedemikian rupa sehingga terarahkan untuk menjadi pengasah bagi ketumpulan-ketumpulanmu. Mengelola energi pada tempat yang tepat untuk mengembangkan potensi agar bisa memperbesar kebermanfaatanmu di hidupmu. Ibarat sebuah pesawat, sebentar lagi kau akan lepas landas untuk mengangkasa mengejar hidupmu.

20 artinya bersiap, waktu itu terbatas. Kau selalu berfikir untuk memulai suatu hal yang besar pada saatnya nanti. Tapi sadarkah bahwa kau sedang hidup di hari ini, bersama dengan teman-temanmu di hari ini. Lupakan menunda-nunda, fokuslah pada hari ini. Lakukan sejak hari ini, sejak sekarang tepatnya. Rencanakan apa yang kau lakukan dan lakukan apa yang kau rencanakan.

Begitu banyak ide brilianmu tentangmu di hari ini dan nanti, tentang semua konsep manajemen waktu, jadwal harian, target-target kecil hingga target-target besar, lakukan saja kawan, jangan terfokus pada ide yang hanya dicurahkan dalam coretan-coretanmu. Lakukan hal-hal yang telah kau wacanakan perlahan, dari sekarang.

Tentang amanah. Baru saja kau mendapat evaluasi yang cukup berharga dari mereka-mereka yang masih peduli terhadapmu. Evaluasi dengan harapan untuk membuatmu menjadi lebih baik ke depannya. Dari teman-teman seperjuanganmu dalam menjalankan amanah di organisasi tercinta ini. Adakalanya memang kau terjebak dalam kekhawatiranmu sendiri akan berbagai hal. Kau terlalu berlebihan memikirkan semuanya, hingga akhirnya kau tak lakukan apapun sebagai hasil dari pergolakan pikiranmu. Kau terjebak dalam penjara pikiranmu sendiri. Bongkar itu kawan, dengan tak usah memikirkannya. Tak perlu konsen pada dirimu sendiri karena sejatinya setiap diri mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jika kau merasa lemah dalam satu hal, kau masih punya kelebihan dalam hal yang lain. Sadarilah itu. Dalam rangka 100 hari kinerja ini, cukuplah kau trdiam dalam pencarian tentang itu, saatnya kau berlari seperti hari itu. Seperti saat di pundakmu masih terpikul sebuah mimpi besar. Dan kau tak peduli dengan lemahnya dirimu, tapi berfokus pada solusi yang ditawarkan. Ingatkah hari itu galih? Lakukan sekarang! Lakukan sekarang! Sekarang pun di pundakmu ada mimpi yang sama, tapi kau tidak menyadarinya kawan. Ayok, kau telah tulis banyak list yang harus diperbaiki. Kau telah tulis sebagian mimpi-mimpimu. Kau telah merancang agenda harianmu untuk mengarah kesitu. Tinggal buktikan untuk konsisten melaksanakannya. Kau bisa kok gal! Kau hanya takut pada dirimu sendiri..

Siapkah kau menjadi orang yang berbeda gal? Seharusnya semenjak hari itu kau sudah siap untuk berbeda, galih. Jangan kembali menjadi orang yang sama yang menutup diri lagi. Kau sudah cukup terbuka kala itu. Kau harus siap berbeda, kau harus siap di depan. Sejauh ini, mungkin kau memang lelah setelah dalam waktu panjang itu kau selalu di depan, dan ditambahi pula dengan bumbu-bumbu orasi, meski memang lelah, tapi tak berarti bahwa kau telah menjadi yang terbaik. Jadi masih harus belajar banyak galih, toh kau pasti sudah lupa rasanya jadi orang di depan seperti apa. Ya sudah cukup beristirahat galih, saatnya kembali berdiri dan berlari menjalankan kewajiban seamanah mungkin. Karena seharusnya seperti itu.

Lalu bagaimana dengan taun depan gal? Selalu ada pertanyaan seperti itu, dan pasti ada dalam benak-benak mereka.
Sederhananya, apapun yang terjadi dengan nanti, yang penting tetap berfokus untuk menjadikan setiap hari lebih baik dari hari sebelumnya. Aku tau, kau tidak begitu merisaukan dengan bagaimana dan apapun yang nanti akan terjadi, yang tetaplah berdoa agar hati dijaga dari ambisinya dalam hal yang tidak baik. Dan lepas dari segala harapan orang-orang terkait nanti, yang terpenting tetaplah berfokus untuk menjadi orang yang amanah di hari ini galih! Memantaskan diri untuk lebih baik dan menjadi yang terbaik, namun tetap menjaga niat tetap lurus untuk mengejar Ridhonya, tanpa dirasuki oleh kepentingan nafsu yang ingin menguasai. Tidak peduli menjadi siapa kita nanti, selama itu bisa menjadi lahan untuk menebar kebaikan dan inspirasi, kenapa enggak?

Big is Powerful
Medium is Wonderful
Small is Beautiful


Dibuat :
23 April 2013
Andika


Posted By Andika Galih Priadi4/24/2013