Wednesday, May 8, 2013

Bermalam bersama Ubuntu, Melanjutkan Hari dengan 8

Filled under:


Malam hari kemarin sedikit berbeda dalam menghabiskan segelas malam. Biasanya kuseruput malam dengan berbagai informasi apapun yang berlalu lalang ibarat jalan bebas hambatan dalam pikiran yang kemudian dicurahkan dalam sebuah pencarian. Atau meneguk perlahan dengan selembar demi selembar cerita yang ditulis untuk menjadi sebuah inspirasi.

Begitulah malam hari kemarin. Sebuah rasa penasaran melahirkan beragam pertanyaan dan keingintahuan tentang penggunaan suatu OS yang open source yakni Ubuntu. Setelah berdiskusi sehingga semakin menyiram perasaan penasaran ini semakin subur tanpa eyang, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba aplikasi ini dan siap berkorban apapun yang terjadi dengan laptop saya.

Beliau meminjamkan sepucuk USB untuk bootingnya, lalu pada malam harinya kemudian sy install Ubuntu tersebut di laptop neng asus tercinta ini. Biarpun badai akan datang, biarpun hujan akan segera turun, biarpun angina kencang siap menghadang, tak sedikitpun menggoyahkan keputusan ini karena kokohnya akar penasaran yang tertancap ini.

Perlahan namun begitu meyakinkan semakin merekahkan senyuman tatkala berimajinasi tentang penggunaannya, meskipun memang belum tau sedikitpun hal-hal dasar terkait penggunaan OS ini. Tanpa perlu melakukan penantian panjang, apalagi LDR-LDRan yang begitu mengiris hati-hati yang begitu penepat janji, proses instalasi pun selesai dilakukan.

Ubuntu 13.04 Raring ini terbilang baru karena baru terbit beberapa hari lalu, baru download, dan dengan sok-sokannya saya install full system dalam neng Asus ini. Aplikasi yang tertanam telah cukup untuk memenuhi pintu-pintu utama yang biasanya harus ada dalam suatu OS. Tampilannya menarik, unik, ringan namun tak terlihat seperti sepasang kembar yang terpisahkan dengan Windows. Yaeyalah

Hal mendasar berikutnya yang merupakan induk dari segala macam anak dari sebuah laptop adalah modem. Tanpa benda kecil ini, hidup hanya seluas kamar kosan 3x3 dengan kamar mandi di dalam. Modem, benda ini mampu menjadi pesawat untuk berkeliling dunia hanya dengan sedikit pijatan-pijatan kecil pada keyboard anda. Bagi saya modem adalah PESAWAT dengan KECEPATAN KURA-KURA karena terkadang saking cepatnya sampai saya sudah berfikir dimana, browsernya masih saja loading.

Saat dunia semakin cepat, maka koneksi pun harusnya semakin cepat.

Namun apa yang terjadi, dengan system koding-kodingan via terminal yang cukup membuat otak menghilangkan kata kantuknya untuk sementara waktu, tak berhasil untuk mencari tahu bagaimana harusnya menginstal modem SMARTFREN di laptop Ubuntu tersebut.

Malam pun semakin larut, otak pun mulai lelah dan sang kantuk mulai mengelitiki mata untuk bertemu antar kelopak, memasang magnet di punggung untuk segera bertemu dengan kasur. Saya pun berjuang untuk melawan semua itu, namun dalam 10 detik, dunia pun berubah menjadi pengejar mimpi.

Keesokan harinya, saya coba tanyakan pada rumput yang bergoyang. Tak ada jawabnya. Namun semua diam, namun semua bisu. Tinggal aku sendiri, terpaku menatap langiit… Yok semua nyanyi!!

AKhirnya coba kutanyakan kembali pada sang master Ubuntu dari dunia timur. Bertemu di langit ke 4 farmasi. Kusampaikan segala kegundahgulanaanku yang membuat malam terasa begitu panjang. Solusi pun diberikan, seraya berselancar dalam berbagai kepentingan, tidak sedikitpun menemukan metode yang berhasil.

Hati pun menyerah. Namun ide selalu ada. Akhirnya idenya adalah, menggunakan Windows 8 dari Ged A. Saya bersama seorang teman pun pergi ke gedung A, dan dengan negosiasi yang cukup mengulur waktu kami pun dibuatkan CD dan ada lisensi dari Windows 8nya.

Kembali saya coba untuk menginstall modem. Bisa. Alhasil, dunia tidak hanya sepetak kamar kosan. :D

Posted By kagiri5/08/2013

Ini Sederhana

Filled under:


Hari tetaplah hari yang berlalu tanpa arti. Angin tetap berhembus meski tak mampu menyejukkan dalam teriknya mentari. Gurun menjadi tak sejati karena menyediakan sepetak salju bagi jiwa-jiwa yang dipeluk oleh kegersangan.

Ingin kembali merangkai cita menuju sebuah rasa yang penuh dengan cerita. Mengukir pahatan bersama dalam bingkai-bingkai semesta. Menulis kembali sebuah cerita tentang bagaimana hari ini jejak-jejak yang tercetak dalam tanah-tanah sejarah.

Ini bukan tentang api yang membara, yang membakar semua gelora di dada. Namun tentang bagaimana cita ini dijaga agar nurani merestui. Tersenyum tidak berarti senang. Diam bukan berarti setuju. Cemberut tak berarti kecewa. Dalam kesederhanaan, selalu ada kompleksitas yang saling melengkapi.

Hanya menjadi pendiam, penuh misteri.
Merenung dalam diam
Menangis dalam diam
Marah dalam diam
Berteriak dalam diam

Karena memang
Diam adalah cara terbaik untuk merenung
Diam adalah cara terbaik untuk menangis
Diam adalah cara terbaik untuk marah
Diam adalah cara terbaik untuk berteriak


Ini bukan tentang kejenuhan. Ini hanya masalah sederhana tentang memulai. Hanya butuh tempat yang tepat untuk membuat semuanya berjalan baik, karena hati ini bukanlah tempat yang mudah untuk menumpahkan isinya. Saat mencoba untuk mengeluarkan, maka saat itu bukanlah saat yang tepat. Dan ketika menanti waktunya, maka waktunya telah habis.

Ini hanya masalah sederhana, tentang tempat dan keyakinan.  

Posted By kagiri5/08/2013

Monday, May 6, 2013

Saat Jalan yang Berbeda kembali Menyapa

Filled under:


Selimut kebimbangan selalu menghangatkan beragam pilihan, dalam persimpangan jalan, semua jalan adalah benar jika kau lewati jalan itu hingga akhirnya. Setiap jalan akan menghamparkan kerikilnya masing-masing, tantangan yang berbeda-beda, waktu, jarak, kondisi yang pasti berbeda. Maka bijaksanalah dalam memilih karena setiap pilihan akan menuju pada satu tujuan dan disertai bermacam resiko yang menjadi pelepas dahaga tersendiri.

Begitulah kiranya di hari ini, dipertemukan dengan dua buah pilihan yang keduanya dibumbui oleh positif dan negatifnya masing-masing. Dan hari ini kembali teringat bahwa arus tetap mengalir dan telah membawa sepucuk memori ini hingga sejauh ini. Dan hari ini sebuah persimpangan yang bisa mempercepat jalan menuju suatu tujuan terbuka lebar dalam jangkauan untuk dicoba. Lalu bagaimana?

Hari ini dan satu tahun yang lalu itu berbeda. Saat dulu sang penggerus penasaran yang mencoba memasukkan beragam serbuk pengalaman, dan saat ini yang sedang coba meniti jalan meski tanpa tujuan. Kesempatan itu kembali datang, sudikah kiranya kau menjemput kembali hal itu?

Mencoba kembali menyeduh kehangatan masa itu, saat kita bersama dalam satu atap asrama, dan mempunyai harapan sama untuk mencoba memasuki atap lain yang sama. Kita melukiskan tinta-tinta yang sama, hingga lembaran cerita harus memisahkan kita semua. Ceritamu terlukis bersama mereka. Ceritaku tertulis bersama mereka disini.

Namun kini, persimpangan itu kembali ada. Hanya perlu menyiapkan seberkas keyakinan dan persiapan, serta menunjukan keterbaikan untuk bisa menjadi bagian darinya. Memang dulu begitu terobsesi dengannya karena obsesi berjamaah untuk bisa menjadi bagian dari pencetak kontribusi. Namun keterbatasan belum mempersilahkan. Dan hari ini, peluang itu kembali menyapa. Sempat hati ini kembali terobsesi, imajinasi kembali berlari, dan niat untuk mempersempit waktu luang kembali ada.

Perlahan, semua berkas kembali coba dipenuhi, semua catatan lama kembali coba dibuka. Dalam kisaran waktu yang tak begitu jauh, hanya perlu beberapa butir rekomendasi untuk melengkapinya.

Diri kembali bertanya, saat kembali terfikir tentang bagaimana hari bisa sampai di sini. Tentang waktu yang begitu berharga, yang siap dikorbankan untuk beragam aktivitas yang lebih padat namun memang bermakna. Tentang kekeluargaan yang terjalin bersama dengan 2 orang hebat dalam satu pintu besar, yang mungkin harus ditinggalkan dan menyambut keluarga baru dalam pemikiran yang nanti pasti akan berbeda.

Maka sampailah kembali pada titik dimana keraguan untuk melanjutkan membakar api yang sudah terlanjur memanas, ataukah mencoba meredamnya dan dialihkan untuk membakar potensi diri secara sendiri. Hanya sebuah kebimbangan dalam perputaran persepsi dan perspektif yang melahirkan sebuah fatamorgana dalam jalanan kehidupan

Posted By Andika Galih Priadi5/06/2013

Wednesday, May 1, 2013

Sabar ya, Pukpuk!

Filled under:

Saat menulis dengan sebuah semangat untuk pengembalian jati diri serta karakter penulisan yang sesuai, dengan semangat berapi-api dan berimajinasi tentang cerita yang akan dibagi, ternyata tiba-tiba sesuatu terjadi. Laptop tidak seperti biasanya, entah karena lelah dipijit-pijit  dan selalu dipaksakan untuk full power, tiba-tiba saja mati. -_-

Padahal baterainya tak terpisahkan, sejak lama. Mungkin terlalu panas, tapi padahal masih seperti biasanya. Ada apa neng Asus? 

Sebelum merestart secara otomatis, tulisan waktu luang sebelum waktu sempit, sudah 80% selesai, dan akhirnya kandas sudah. Dan jika berfikir untuk mengulang cerita tersebut, rasanya hati begitu vokal menyuarakan ketidaksetujuannya. Ada kesedihan tersendiri saat harus mengulang sebuah karya yang telah totalitas ditulis sebelumnya.

Yah, jadinya mungkin hanya secuil tulisan tak berarti ini yang menutup malam hari ini. Selamat malam para pejuang!

Posted By Andika Galih Priadi5/01/2013