Sunday, August 11, 2013

Hey

Filled under:

Hey

Hey, lama tak menyapa. Apa kabarmu?

Semoga tetap baik seperti hari-hari yang berlalu


Hey, lama tak bertemu. Gimana harimu?

Semoga tetap berwarna, seperti warna-warna yang selalu kau torehkan untuk hari-harimu.



Hey, lama tak melihat. Kemana saja?

Kau pasti telah pergi belajar pada dunia



Hey, lama tak bertukar cerita. Ada cerita apa hari ini?


Semoga setiap harimu adalah kumpulan cerita-cerita bahagia.





Posted By kagiri8/11/2013

Jalanan sendiri, menuju persimpangan jalan

Filled under:

Tik tok tik tok, terdengar bunyi suara detak jam yang membawa jantung berdetak mengikuti iramanya. Keringat dingin mulai mengalir membanjiri kaos oblong yang waktu itu dikenakan. Waktu semakin dekat, menuju persimpangan jalan.

Dalam hitungan bulan, akan tiba di ujung yang mungkin berarti awal untuk sebuah perjalanan baru. Rasanya meski masih beberapa bulan, namun rasanya sangat dekat, dan setiap detik selalu membawa diri ini sedikit khawatir.

Kembali kulangkahkan kaki, untuk mengukir jejak terindah bersama berlalunya sang waktu. Langkah demi langkah pun berlalu. Aku mengalihkan tatapan ke samping, sebuah senyuman manis tersungging menghapus dahaga karena perjalanan ini. Senyuman dari orang-orang yang ternyata sedang dalam perjalanan yang sama, menuju persimpangan jalan.

Terhenti sejenak, teringat kembali tentang jalan yang telah dilalui. Aku kembali melihat sejauh mana tapak langkah ini. Kulihat ke belakang. Panjang.. Memang panjang. Namun rasanya baru kemarin aku memulai perjalanan ini. Yah, menyesal, memang menyesal. Perjalanan sejauh ini tidak kunikmati,

Ku ingin melakukan banyak hal, dan meninggalkan banyak hal.

Karena banyak hal yang tidak kulakukan, selama setengah perjalanan ini. Mungkin diantara mereka yang bersama melalui perjalanan ini, hanya ku yang tidak menghasilkan apa-apa. Rasanya siap-siap saja jika memang harus dikeluarkan dari rombongan, karena dalam bagianku, rasanya gagal untuk itu.

Jika nanti tiba di persimpangan jalan, dan melihat dari setengah perjalanan kemarin, rasanya semua tahu jalan mana yang terbaik untuk ku yang kurang baik. Tak berarti terlibat dalam perjalanan besar, bersama orang besar, membuatku menjadi orang besar. Hanya terlihat besar, tanpa tahu mungkin aku lah yang terkecil.

Tak tahu apa-apa, tak mengerti apa-apa, tak bisa apa-apa. Terlalu dalam tenggelam dalam samudera misteri, mencari jawaban yang tidak dapat ditemukan, mencari jalan yang terbaik tanpa tahu jalan tersebut menuju kemana.

Maafkan aku semua, atas setengah perjalanan ini.

Ku ingin melakukan banyak hal, bukan karena persimpangan jalan itu. Bukan karena persimpangan jalan itu, bukan. Hanya ingin menjadi diri yang berjalan di jalan sendiri. Melakukan banyak hal yang bermanfaat, memulai mengejar targetan-targetan sederhana hingga besar, menuntut ilmu yang tepat, mengejar pengalaman yang banyak, menebar kebaikan, membangun persahabatan dan lainnya.

Ku ingin meninggalkan beberapa hal, hal-hal yang membuat hati ini sedikit terganggu, ketidaknyamanan. Namun berharap masih dalam zona tidak nyaman agar semakin berkembang. Ingin meninggalkan hal-hal yang secara mendasar mengganggu, tidak dimengerti, ataupun mengganggu untuk mulai berjalan di jalanku.

Langkah kaki kembali terpapah, kembali menatap ke depan, ke persimpangan terdekat, persimpangan jalan yang akan menentukan banyak hal yang dipilih dan ditargetkan di jalan berikutnya.

Sempat berfikir bahwa di persimpangan nanti, harus memilih jalan yang itu, karena semua mengarah kesana. Tapi ketika dipikir ulang, rasanya hal tersebut tidaklah tepat. Hanya kesombongan yang mengantar pemikiran ke arah sana. Rasanya hanya orang-orang tertentu yang peduli dengan apa yang aku pilih, dan di antara semua pertimbangan, semua itu terserah pada ku. Tak banyak yang berharap untukku memilih jalan itu, tak banyak yang mengarahkanku kesana. Orang-orang hanya memprediksi, bukan mengharap.

Melihat bahwa aku dalam sebuah perjalanan bersama orang-orang besar, maka diprediksi jalan itulah yang akan aku pilih. Ya prediksi itu hanya asumsi berdasar dimana aku sekarang, sementara harapan ya berbeda.

Ya semua terserah padaku di persimpangan nanti, dan kemana akan memilih? Percayalah, aku ingin berjalan dengan hati, aku akan memilih dengan hatiku, bukan dengan asumsi orang banyak yang tak tentu benar. Sekalipun itu sama antara asumsi orang, dengan apa yang aku pilih, berarti asumsi mereka tepat. Maka bantulah dalam menjalankan pilihan itu nanti. Sementara jika itu berbeda, maka yakinlah ini jalanku dan aku telah mempertimbangkannya.

Aku kembali menatap ke samping, kepada teman-teman seperjalanan, kepada kakak-kakak seperjuangan. Senyuman pun secara perlahan mulai kembali muncul, “Mari semua, teman-teman dan kakak-kakak, kita selesaikan perjalanan ini dengan sebaik-baiknya, tolong ingatkan jika kembali tak berdaya tergerogoti dalamnya misteri keraguan akan kemampuan diri sendiri, dan kali ini ku kan berusaha total, berjalan dengan sebaik-baiknya. Mulai menempatkan pada tempat yang seharusnya, yakni mendahulukan apa yang kupikirkan dan setelah itu mempertimbangkan apa yang orang-orang pikirkan. Karena sejauh setengah perjalanan ini, aku lebih menomorsatukan apa yang orang pikirkan tentang apa-apa yang kulakukan, padahal orang belum tentu peduli, sehingga hasilnya adalah aku ga ngapa-ngapain karena takut. Pemikiran orang lain akhirnya menenggelamkan semua kemampuanku, dan aku hanya terdiam dalam ketakutanku sendiri.

Jika sampai saat ini jalan yang terpilih adalah jalan yang telah terpilihkan, dan semua hal mengarahkan pada persimpangan jalan nanti, maka kali ini bantulah aku untuk berjalan sesuai dengan pilihanku.

Aku punya mimpi di dua tahun terakhirku, dan akan kukejar itu, tak peduli jalan mana yang dipilih nanti.




Posted By kagiri8/11/2013