Sunday, October 6, 2013

Belajar Dari 3 Idiot, 'Aal Iz Weell'

Filled under:

Saya pernah menjadi seorang kolektor film, sampai hari dimana kuota harddisk yang hanya 320GB itu digerus habis oleh film yang banyak, dan laptop pun menjadi seperti kakek-kakek yang responnya sangat lambat. Namun, dari situ pula saya belajar untuk merusak laptop saya secara sistemik dan semena-mena.

Dari berbagai macam film yang pernah mengisi kamar-kamar hardisk laptop saya, saya rela semuanya terhapus kecuali beberapa film, dan salah satu yang akan dibahas sekarang adalah film “3 Idiots”. Film ini adalah film favorit saya, karena kebetulan saya sedang berada pada posisi yang sama dengan cerita di film itu yakni mahasiswa.

Nilai-nilai pembelajaran sangat banyak bisa saya dapatkan dari film tersebut, dan yang paling menyentuh adalah bagaimana kita belajar di kampus itu seharusnya tidak hanya untuk mempermudah kuliah 4 tahun saja, tapi untuk 40 tahun masa-masa setelah kuliah. Sebagai seorang pembelajar yang baik, seharusnya kita tidak hanya menghafal materi, namun harus mampu memahami sesuai dengan cara kita. Pernah di satu scene disampaikan sebuah kata “Saya tidak memberi tahu Anda tentang mesin, karena sudah pasti Anda lah ahlinya, tapi saya disini memperlihatkan kepada Anda bagaimana seharusnya mengajar”, ya kira-kira begitulah isi ceritanya karena saya pun hanya mengingat inti-intinya saja.

Sungguh, saat saya sedang demotivasi dalam belajar, menonton film ini meski menghabiskan waktu 3 jam, tidak membuat saya merasa kehilangan waktu karena mampu mengembalikan semangat belajar dan untuk mengejar passion belajar kita di kampus.

“Kamu ini aneh, mencintai fotografi tapi malah menikahi mesin”,

Selain termotivasi, saya pun selalu bersedih ketika menonton film ini. Dulu saya sangat mencintai suatu hal, dan menurut saya hal itulah yang memudahkan perjalanan akademik saya hingga masuk UI tanpa tes (undangan), tapi jujur saja masuk Farmasi benar-benar meninggalkan apa yang saya cintai dahulu itu. Saya pun melupakannya, berusaha mencintai apa yang harus dicintai di hari ini.

Tapi perasaan itu selalu ada, apalagi sampai hari ini rasanya belum sepenuhnya memahami apa yang harus dipahami di hari ini, dan selalu terngiang nostalgia bersama hal itu dahulu. Jackie Chan takkan pernah sesukses sekarang jika dia jadi penari balet, Habibie tidak akan sesukses sekarang jika dia belajar Kung Fu, dan Saya akankah sesukses mereka dengan apa yang saya pegang di hari ini yang nyatanya masih begitu lemah disana.

Meski demikian yang terjadi, saya bersyukur karena disini saya dipertemukan dengan apa yang lebih besar dari sekedar cinta, dia bernama kontribusi, pengorbanan, dan emosi. Saya menemukan bahwa ternyata berkontribusi itu lebih indah dari sekedar mencintai apa yang kita jalani, sepenuh hati untuk bermanfaat bagi orang lain itu lebih indah daripada sendiri bahagia bersama cinta itu. Saya belajar untuk menjadi besar dengan cara yang benar, dan untuk memahami bahwa hidup tidak hanya sebatas cinta.


Bahwa Ada Hikmah dibalik semua yang telah terjadi, hanya tinggal berdoa dan yakin itu adalah yang terbaik. Selalu menjadikan diri menjadi lebih baik, membawa pada kebaikan, mengasah emosi. Apa yang akan terjadi dengan hari esok? Yang kutahu esok akan selalu cerah karena mentari akan selalu bersinar sepanjang hari :D. Just believe! Aal iz weel!!

Posted By kagiri10/06/2013

Saturday, October 5, 2013

Telah lama mengangkasa, Saya Ingin Mendarat

Filled under:

Saya telah belajar terbang kepada pilot-pilot dengan jam terbang yang tinggi. Mengangkasa mengelilingi langitan nan luas, melewati bermacam samudera, belajar untuk menerjang badai dididik langsung oleh pilot berpengalaman. Saya melihat langsung bagaimana pilot mengendalikan penumpangnya, menghadapi tantangan-tantangan yang tidak bisa diduga dan selalu fokus untuk mengarahkan pesawat tetap pada rute yang seharusnya.

Paragraf tersebut hanyalah pemisalan bagaimana keadaan saya sekarang. Saya belajar langsung dari orang-orang hebat di sekitar saya, dipersiapkan untuk menghadapi kompetisi dan kelayakan untuk menggantikannya suatu saat nanti.
Di masa-masa persiapan itu, saya terlalu berfikir untuk bisa terbang setinggi-tingginya, untuk bisa mengangkasa sebaik-baiknya, membangun pengalaman yang kokoh, sampai pada suatu kondisi dimana saya merasa nyaman dengan penerbangan ini, menikmati indahnya langit dengan oksigen yang minim, tersenyum indah melihat burung-burung membentuk formasi yang kokoh di langit biru, bercanda dengan rekan-rekan seperjuangan, dan berfokus pada tempat tujuan yang menciptakan rute perjalanan yang begitu menarik.
Saya akan tiba di akhir perjalanan, dan sudah dipastikan restu orang tua tak mengizinkan untuk melanjutkan perjalanan dalam rute ini. Namun, saya pun sedang memastikan terkait rute yang akan saya ambil dalam perjalanan berikutnya, sedang memastikan apakah mendapat restu untuk itu.
Saya pun tersadar, telah lama saya terbang dan telah melupakan kehidupan saya yang seharusnya. Dalam rute perjalanan berikutnya, akan saya pastikan bahwa saya berjalan dalam perjalanan tanpa melupakan daratan. Saya akan kembali mengejar mereka yang telah berlari jauh membangun pondasi-pondasi untuk kehidupan di masa depan, ya saya memang tak secepat mereka tapi saya punya pengalaman terbang, mungkin sedikit yang bisa mengalaminya. Saya mungkin terlambat, tapi dipastikan tak akan terlambat untuk mengejar. Di 2 tahun terakhir bersama kalian, saya akan membangun sebuah pondasi untuk 20 tahun bahkan lebih untuk kehidupan nanti.
Untuk kalian yang selalu menginspirasi, terimakasih telah memberi contoh terbaik untuk terbang tanpa melupakan daratan. 

Posted By Andika Galih Priadi10/05/2013