Saturday, February 1, 2014

Bahkan Menulis pun Butuh Dibiasakan

Filled under:

Menulis memang hal yang menarik karena kita bisa meluapkan segala macam apa yang ada dalam pikiran kita ke dalam suatu tulisan, namun ternyata setelah sejauh ini ada pelajaran yang bisa diambil dari jarangnya menulis-menulis kembali disini. 
Bahwa ternyata menulis itu pun butuh dibiasakan. Bisa karena biasa, mungkin itu pepatah yang cocok mewakili kondisi ini. Bagaimanapun, kekakuan itu kembali menghiasi tulisan-tulisan ini, bahkan menulis satu paragraf pun rasanya berat sekali,  ketika membuat suatu cerita lampau pun begitu beratnya karena terjadinya konflik pikiran sendiri.

Entah apa yang terjadi dalam otak kita ketika menulis, pertarungan antara imajinasi yang muncul yang kemudian dikonversikan menjadi bentuk tulisan-tulisan yang hanya berupa kata-kata. Proses ini pun membutuhkan kerja  ekstra ketika lama tidak menulis, ketidakpercaya dirian kembali membentengi beberapa hal dalam mengurai kata demi kata yang tertulis.

Dan tulisan ini pun menjadi kaku sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya, bahkan rangkaian kata, pilihan kata, alur, emosi, itu rasanya lepas dari raganya dan tidak bisa tertitipkan kesini. Yang tersisa hanya kekakuan, kesesuaian alur logika rangkaian kata tanpa memperhatikan aspek-aspek pewarnanya.

Mungkin menulis memang berbeda, menyesuaikan dengan tujuan menulis itu sendiri. Ketika tujuan penulisan untuk dijadikan sebuah karya ilmiah, perlunya penggunaan kata-kata baku yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan yang menjadikan kebakuan itu sendiri menghinggapi penulis. Sebuah alur yang jelas dari suatu pernyataan umum hingga menciut menjadi sebuah kekhususan, atau sebaliknya yang dikenal dengan deduksi dan induksi, mengurangi kata-kata tidak penting yang kadang-kadang digunakan karena kebiasaan menulis gaya bebas, gaya kupu-kupu atau bahkan gaya batu. Jadi inget ikutan karya tulis ilmiah beberapa pekan yang lalu, menulis satu halaman saja sampai menghabiskan waktu 4 hingga 5 jam, bukan karena susahnya mencari referensi, tapi lebih sulit memulainya karena sama sekali tidak yakin dengan kualitas yang nanti dihasilkan.

Berbeda dengan menulis gaya bebas yang biasanya ketika menulis cerita, emosi perlu dimasukan menjadi bagian dari cerita dan itu menjadi sesuatu yang sulit, sangat sulit karena emosi itu sendiri tidak terlihat dan ketika harus menjadi unsur dari cerita, harus disampaikan dengan cara yang tepat. Dalam beberapa hal, bahkan tulisan-tulisan itu sendiri bisa menjadi suatu ekspresi lain dari penulisnya ketika memang jiwa penulis sudah terwakilkan melalui tulisan tersebut. Biasanya tulisan itu menjadi sedikit lebih menarik, namun kata-kata yang digunakan, bahasa yang dipilih, benar-benar tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Ya ma'lum saja lah. Yang penting lepas.

Jenis lain, mungkin lebih ke jenis puitis. Ini pun merupakan jenis penulisan yang cukup sulit untuk dilakukan karena membutuhkan imajinasi dan sedikit sok-sok romantis, pake majas-majas, pake pengibaratan dan sebagainya lah. Pun pemilihan diksinya harus tepat agar kata terjalin menjadi sebuah alunan melodi yang bisa menenggelamkan pembaca dalam keindahan imajinasinya, karena kadang keindahan itu nomor satu, mungkin maknanya hanya sebuah kalimat tapi bisa disampaikan menjadi beberapa kalimat yang membuat pembaca menjadi lebih terjiwai dengan tulisannya itu. Dan tulisan ini pun susah, yang sok-sok nulis puitis, dibandingkan dengan orang yang suka nulis puisi pasti beda, alangkah lebih baik membaca untuk menulis dan menulis untuk membaca, biar input sama outputnya seimbang.

Dan ketika mencoba ngemix beberapa macam tulisan, ketika membiasakan sok puitis, eh pas ikutan nulis ilmiah malah kebawa gaya sok puitisnya, pake 'terkadang', 'alhasil', 'ibarat', 'teringat', halah segala macam kata-kata yang gak penting pun keluar dan susah karena rangkaian di otaknya sedang hangat dengan kata-kata yang tidak biasa. Akhirnya perlu revisi-revisi lagi dan mulai membenahi diri supaya tidak keluar kata-kata gajelasnya. Database yang ada di otak kita perlu diacak-acak lagi dari pembiasaan penggunaan kata-kata yang tidak seharusnya.

Ketika terbiasa nulis ilmiah, lalu harus menulis cerita menarik penuh dengan emosi, bukan cuma logika yang berjalan, atau harus menulis sedikit lebih puitis (sebenernya ini belum pernah dialami karena kondisinya lebih banyak sebaliknya, tapi bisa dibayangkan sih), akhirnya bahasa menulis menjadi lebih kaku, dan sangat formal.

Sulit memang membayangkan harus seperti apa cara agar bisa menemukan mix yang tepat di tengah-tengah ketiga itu agar tidak terjadi tarik menarik peran penulisan yang membuat kesulitan ketika menulis, intinya menulis pun butuh dibiasakan. Sadar atau tidak sadar, tulisan pertama dari paragraf ini ditulis dengan terbata-bata dan cukup seret keluar kata demi katanya, tapi ketika membaca paragraf ini, tulisan itu lebih mengalir. Bahkan adaptasi pun dimulai dari satu tulisan semacam ini, ya meski kata-kata yang digunakan masih terbatas dalam menulis, meski masih banyak harus belajar, tapi mending dimulai dari membiasakan aja, apapun itu, apalagi menulis. Karena pembelajaran pasti lebih banyak diperoleh dari pembiasaan, pengalaman.

Apalagi sebentar lagi katanya mau skripsi, belum harus banyak menulis untuk tweet dan sebagainya. Banyaklah, karena tak banyak orang yang bisa mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya menjadi sebuah tulisan, mending dibiasakan aja siapa tau bermanfaat buat ke depannya. 

Bahkan menulis pun perlu dibiasakan. Tulisan ini pun mulai tidak jelas arahnya karena ternyata meski mata sudah cukup lelah, namun otak mulai terfokus ke dalam tulisan ini, ya mari membiasakan apa yang ingin kita biasakan. Bisa lah!


Posted By kagiri2/01/2014

Ternyata Sudah 1 Februari

Filled under:

Tanpa terasa ternyata hari ini sudah memasuki 1 Februari 2014, padahal rasanya baru kemarin memalingkan muka dari UAS yang sedikit menguras stamina. Lalu, bersama teman-teman BEM FFUI 2013 mengadakan jalan-jalan akhir kepengurusan ke Dieng, UNDIP. Suasana tawa yang masih hangat terasa di dalam bus, saat berusaha menebak permainan bareng-bareng, saat tukar cerita seram, dan lainnya.

Hari ini telah tiba, 1 Februari 2014. Kini tangan kita sudah bisa menghitung mundur hari demi hari hingga akhirnya perkuliahan dimulai kembali, semester baru dimulai pada 10 Februari 2014. Jika kembali dihitung kapan harus kembali ke Depok, ternyata bahkan satu jari pun cukup untuk menghitung mundur hari-hari terakhir menghabiskan banyak waktu di rumah bersama keluarga.

Sore tadi seorang teman baru saja memberi kabar, sedang dalam perjalanan menuju Depok. Wah cepat sekali pikirku, sepertinya teman ini mempunyai kesibukan yang cukup banyak di hari-hari terakhir menjelang dimulainya semester baru, tiba-tiba ada cermin di depan muka dan berkata “emangnya situ enggak?”. Setidaknya hari ini masih bisa tertawa bersama keluarga :D.

Tahun ini sebenernya tidak berbeda dengan tahun lalu dalam keharusan berangkat ke depok sebelum kuliah. Semoga kehangatan yang tiba-tiba harus beranjak, tertutupi oleh rasa beruntung karena bisa lebih cepat untuk kembali produktif.

Satu tahun ke depan akan terasa berbeda karena Syifa. BEM dan BPM sedang membuka peluang untuk terlibat menjadi bagian darinya, dan sebentar lagi Syifa pun akan membuka dirinya menyambut keluarga baru yang akan bersama melakukan perjalanan satu tahun ke depan.

Posted By kagiri2/01/2014