Monday, September 21, 2015

Pikiran si Gal : Au ala Mikrobiologi, Bakteri, Bakteriosin, Antibiotik

Filled under: ,

Suatu ketika, seorang lelaki bernama Gal tanpa au menemukan dirinya masuk ke dalam dunia dimana dia bertemu dengan manusia-manusia raksasa. Ternyata si Gal menjadi seukuran mikroba, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menemukan hal yang menarik untuk diceritakan. Perjalanan pun dimulai, lautan disebrangi, daratan luas dijelajahi, tebing-tebing tinggi didaki. Akhirnya si Gal menemukan catatan menarik yang dirangkum menjadi 16 poin Gal AU ala mikrobiologi :
  1. "Bakteri aja bisa produksi bakteriosin, masa kita tidak bisa menghasilkan apapun. Wah harus produktif nih!"
  2. "Luka yang kau gores seperti bakteriosin yang membuat hatiku berpori sehingga isi hatiku lisis dan bocor."
  3. "Kamu seperti tetrasiklin, ikatanmu membuatku tidak dapat lagi memproduksi cinta selain untukmu" 
  4. "Sebaik-baiknya BAL membantu pengawetan makanan, bertemu protease dia terurai juga. Jadi, jagalah dia sebaik mungkin sebelum semua terlambat"
  5. "Kamu gak sadar kalau aku (bakteriosin) dapat berubah sifat karena dipengaruhi pH. Terus kamu salahin aku karena aku berubah, padahal kamu gak sadar kalau kamu yang terlalu asam (atau terlalu basa)"
  6. "Kamu tuh baik ke semua orang, kayak antibiotik aja punya spektrum luas. Tapi jujur, aku pengen kamu jadi bakteriosin, cuma punya aktivitas ke orang yang deket sama kamu aja, spektrum sempit"
  7. "Cinta itu jangan seperti bakteriosin golongan III, ukuran cintanya besar tapi dipanaskan dikit langsung rusak. Mending kayak bakteriosin golongan II, meskipun ukuran dia kecil, tapi dia tahan panas."
  8. "Kita tidak tahu apa yang kita lakukan terasa manfaatnya sekarang atau tidak, tapi yakinlah itu tidak sia-sia seperti asam laktat dari BAL yang ternyata bermanfaat membunuh bakteri patogen pada makanan"
  9. "Cinta itu seperti kultur bakteri, harus dalam media dan kondisi yang sesuai maka dia akan tumbuh optimal"
  10. "Cinta itu seperti kultur bakteri, kalau tidak rutin diremajakan dengan hal-hal baru, maka ia bisa mati perlahan"
  11. "Cinta itu seperti peremajaan bakteri, satu goresan pada waktu dan kondisi yang tepat akan menumbuhkan beribu-ribu koloni rasa yang segar"
  12. "Kalau hati kita ibarat kultur kerja yang selalu diremajakan, tak selamanya cinta yang kita remajakan mempunyai bentuk yang sama. Kalau suatu waktu dia berubah, ingatlah mungkin dia sudah tak lagi sama."
  13. "Sebaik apapun kita menumbuhkan cinta, adakalanya kontraminasi rasa-rasa lain pun dapat tumbuh."
  14. "Melihat kesetaraan dan kekeruhan Mc. Farland III kadang begitu sulit, seperti melihat cinta sulit menentukan kesetiaan hanya dari pandangan mata."
  15. "Perasaan yang pekat itu fokus, jika dia mulai memudar, mungkin rasanya sudah menyebar atau diencerkan."
  16. "Kalau waktu ngukur OD600 inokulum bakteri, jangan terlalu keruh, jangan terlalu encer supaya tumbuhnya pas, ga terlalu padat atau terlalu renggang. Cinta juga gitu, harus dicari OD600 yang pas, supaya gak terlalu rapat atau terlalu renggang. "
Ternyata catatan si Gal sedikit melenceng dari yang sebenarnya, berikut catatan sebenarnya (penjelasan dari catatan atas):
  1. Bakteri dapat memproduksi bakteriosin yang ternyata mempunyai manfaat, berpotensi untuk dikembangkan sebagai alternatif untuk dikombinasikan dengan antibiotik. 
  2. Salah satu mekanisme bakteriosin adalah dengan membentuk pori pada membran bakteri, sehingga bakteri menjadi lisis. 
  3. Mekanisme tetrasiklin dalam membunuh antibiotik adalah dengan berikatan reversibel dengan ribosom 30S sehingga mencegah perpanjangan rantai peptida yang sedang tumbuh dan berakibat tidak dapat lagi memproduksi (sintesis) protein.
  4. BAL dapat dimanfaatkan dalam membantu pengawetan makanan dan aman dikonsumsi karena dalam pencernaan bertemu protease akan terurai.
  5. Aktivitas bakteriosin berubah dipengaruhi oleh pH. 
  6. Antibiotik mempunyai spektrum aktivitas luas, sementara itu bakteriosin mempunyai spektrum aktivitas sempit (hanya memiliki aktivitas terhadap bakteri yang mempunyai kekerabatan dekat).
  7. Bakteriosin dikelompokan menjadi bakteriosin golongan I, II dan III. Beberapa karakteristik bakteriosin golongan II diantaranya ukuran kecil dan tahan pemanasan. Berbeda dengan golongan II, bakteriosin golongan III mempunyai ukuran besar namun tidak tahan pemanasan.
  8. Salah satu produk BAL adalah asam laktat. Dalam satu media cair, asam laktat dari BAL yang ditumbuhkan dapat menghambat atau membunuh BAL itu sendiri. Namun ternyata asam laktat itu dapat bermanfaat dalam menghambat pertumbuhan bakteri patogen makanan, sehingga BAL dapat digunakan sebagai pengawet makanan. 
  9. Bakteri harus ditumbuhkan pada media yang tepat dan diinkubasi pada suhu dan kondisi yang tepat. 
  10. Bakteri umumnya diremajakan setiap 1 atau 2 minggu sekali pada media yang baru. Karena setelah itu, bakteri bisa mati karena nutrisi dari media telah habis.
  11. Satu ose bakteri, digoreskan, kemudian diencerkan dengan penggoresan dari kuadran I, II, III dan IV lalu diinkubasi maka akan tumbuh bakteri yang banyak sampai pada koloni tunggal.
  12. Saat kultur kerja bakteri diremajakan terus menerus, ada satu kondisi dimana terjadi perubahan morfologi koloni yang artinya telah terjadi perubahan karakteristik sehingga perlu kembali menumbuhkan dari stok beku yang masih bagus.
  13. Dalam menumbuhkan bakteri, penanganan yang kurang baik (seperti kurang aseptis atau tercemar kontaminan), maka setelah diinkubasi bisa saja muncul kontaminasi dari bakteri lain, atau kapang, khamir. 
  14. Kekeruhan Mc. Farland III dijadikan acuan, jika kekeruhan sama maka inokulum tersebut mengandung 10^9 bakteri/ml. Kadang sulit menentukan apakah kekeruhan telah sama atau masih belum.
  15. Inokulum bakteri 10^9 keruh, diencerkan 10x sehingga kekeruhan inokulum bakteri 10^8 berkurang
  16. Sebelum diusapkan untuk ditumbuhkan ke media, OD600 perlu ditetapkan yakni pada nilai yang memberikan pertumbuhan yang tidak terlalu rapat atau renggang, sehingga saat dilakukan pengujian ulang tidak berbeda antara pengujian satu dengan lainnya.

Posted By Andika Galih Priadi9/21/2015

Life Must Be Go On

Filled under:

Waktu terus berjalan meninggalkan jejak-jejak cerita. Saat pandangan menatap ke belakang, hal yang pernah dilalui memberikan senyum-senyum kepercayaan kepada diri kita untuk terus berjalan. Kita telah menjadi seseorang yang baru dengan pengalaman dan pembelajaran yang banyak dilalui. 

Perkuliahan di program studi S1 telah selesai dan secara resmi telah diwisuda pada beberapa pekan lalu. Namun, tidak banyak perubahan pada keseharian mengingat masih harus melanjutkan perkuliahan di program apoteker. Hari ini, sekitar 3 minggu telah dilewati pada perkuliahan apoteker, masih belum genap sebulan sejak awal perkuliahan. Jika lancar, maka kuliah profesi ini akan diselesaikan dalam waktu 1 tahun. 

Ketika diingat kembali masa-masa pertama kali kuliah, dulu begitu berambisi menjadikan blog ini menjadi buku cerita selama kuliah farmasi. Ya bagaimanapun kini, 4 tahun sudah diselesaikan dan ternyata tak banyak yang terekam. Ternyata, memang sangat menarik sampai akhirnya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata. 

Life must be go on. Mungkin baru sempat menulis tulisan ini, tau-tau nanti sudah lulus lagi sebagai apoteker. Mau bagaimana lagi. Selamat menjemput jalan masing-masing.

Posted By Andika Galih Priadi9/21/2015

Sunday, July 12, 2015

Apa itu Bakteriosin?

Filled under:

Nisin - http://www.amtechbiousa.com/products/pics/Nisin.jpg

Bakteriosin merupakan peptida antimikroba yang dihasilkan oleh bakteri yang dapat memberikan aktivitas inhibisi terhadap bakteri lain dengan kekerabatan yang dekat. Kekerabatan yang dimaksud dapat dilihat dari segi taksonomi seperti pada spesies yang berbeda namun masih merupakan genus yang sama. Bakteriosin merupakan senyawa antimikroba, namun tidak dapat memiliki aktivitas terhadap dirinya sendiri karena adanya protein imunitas yang diproduksi oleh bakteri bersamaan dengan sintesis bakteriosin ini. Mekanisme inhibisinya secara umum diketahui adanya pembentukan pori yang mengakibatkan sel bakteri lisis.

Bakteriosin biasa dimanfaatkan sebagai senyawa pengawet makanan. Produk bakteriosin yang sudah diproduksi secara massal contohnya adalah nisin, yang digunakan sebagai pengawet makanan. Nisin dapat menghambat pertumbuhan bakteri-bakteri pembusuk pada makanan namun aman ketika dikonsumsi karena ketika masuk ke dalam saluran pencernaan, nisin akan diurai oleh enzim protease. Pada perkembangan selanjutnya, bakteriosin dikembangkan sebagai alternatif dari antibiotik karena potensi aktivitasnya, tingkat toksisitas yang rendah dan spektrum aktivitas yang sempit.

Bakteriosin yang dipanen dari bakteri namun belum murni biasa disebut Bacteriocin-Like Inhibitory Substance, disebut demikian karena hasil panen berupa supernatan yang diperoleh masih terdapat protein-protein lain di dalamnya, sehingga jika diuji mengukur konsentrasi protein akan terlihat perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan bakteriosin murni.

Bakteriosin diklasifikasikan menjadi 3 yaitu kelas I (Lantibiotik), kelas II (non lantibiotik) dan kelas III. Perbedaan utama dari ketiga kelas ini adalah pada ukuran molekul dari bakteriosin. Bakteriosin kelas I mempunyai ukuran molekul kurang dari 5 kDa, bakteriosin kelas II mempunyai ukuran kurang dari 10 kDa dan bakteriosin kelas III mempunyai ukuran molekul lebih dari 30 kDa.

Jika ingin mengetahui lebih lanjut mengenai bakteriosin, silahkan membaca buku atau jurnal yang membahas mengenai ini.

Posted By Andika Galih Priadi7/12/2015

Thursday, April 9, 2015

Website pribadi, Sepertinya Boleh Juga

Filled under: ,

Ilustrasi Mengetik (ciricara.info)
Beberapa waktu lalu seorang senior kampus yang cukup populer bernama Faldo Maldini, mulai mempromosikan website pribadi miliknya. Satu tulisan dari website tersebut yang dishare pada halaman facebook memunculkan gagasan mengenai judul tulisan ini. Tulisan tersebut berjudul "Beralih dari Zona Nyaman". Pada waktu itu hanya selintas pemikiran yang singgah dalam lamunan malam, tanpa dituangkan dalam sebuah tulisan.

Gagasan, imajinasi, lamunan, mimpi atau apapun yang melewati pikiran, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang berharga sehingga tidak ingin terlewatkan dan terlupakan begitu saja. Salah satu cara menjaganya adalah dengan mengabadikannya dalam bentuk tulisan. Tulisan-tulisan tersebut membutuhkan sarana untuk merapikannya, sehingga seiring berkembangnya teknologi informasi maka dikenal blog pribadi, website pribadi dan media sosial.

Media sosial merupakan salah satu media untuk mengekspresikan diri, kita mengenal yang populer di antaranya Facebook, Twitter, Path, Instagram, Line, BBM, Tumblr dan banyak lagi. Media-media tersebut mempunyai keunikan masing-masing. Dalam satu baris waktu, dapat terlihat beragam pemikiran, perasaan, ucapan, emosi, ekspresi dari setiap teman yang dimiliki di media sosial, biasanya bentuknya berupa tulisan, emoticon, foto, video atau suara. Mengenai tulisan, sebagian besar ekspresi dituangkan dalam tulisan baik berupa tulisan singkat, maupun panjang. Media sosial menjadi media dengan arus informasi yang berputar sangat cepat.

Sebelum mengenal media sosial, kita mengenal blog atau website. Blog atau website sampai sekarang masih cukup populer digunakan sebagai sarana informasi utama mengenai apapun yang ingin kita ketahui. Dalam kata yang sederhana, jika kita ingin mengetahui mengenai tentang sesuatu, maka kita cari informasi di website atau blognya.

Blog pribadi biasa dijadikan sebagai sarana untuk menuangkan gagasan atau hanya sekedar bercerita tentang hal-hal yang ingin pemilik blog tulis. Tulisan tersebut kemudian dipublish, jika blog tersebut mempunyai banyak pembaca atau tulisan tersebut membuat orang yang mencari tau terarah pada tulisan tersebut, maka akan ada komentar-komentar dari yang telah membaca.

Penyedia blog yang cukup banyak digunakan adalah blogspot, wordpress dan yang baru adalah tumblr. Masih banyak juga penyedia blog lain yang bisa dipilih seperti blogdetik, namun kali ini lebih ingin membicarakan mengenai ketiga penyedia tersebut.

Blogger dari Google dan Wordpress merupakan penyedia blogging yang memiliki kemiripan, sementara tumblr dia selain bisa untuk menulis, ada tools baru yang dinamakan reblog untuk mempost ulang tulisan dari orang yang kita inginkan sehingga akan muncul pada halaman tumblr milik kita. Blog-blog yang terkenal mempunyai banyak follower dan pembaca setia yang selalu menunggu tulisan-tulisan dari blog tersebut.

Kembali pada pembicaraan paragraf awal, dalam tulisan tersebut diceritakan bahwa bang Faldo ini dahulu merupakan pengguna wordpress, lalu atas anjuran temannya ia berpindah ke tumblr yang ia sebut hingga mempunyai follower 6000, follower yang sangat banyak. Namun trend kembali berubah sampai akhirnya beliau berpindah ke website sendiri "beralih dari zona nyaman" dengan meninggalkan tumblr yang sangat ramai pembaca tersebut. Dalam hal ini, dia benar-benar total meninggalkan blog-blog lama dan membuat website pribadi dengan domain dan host sendiri.

Jikalah hanya arti sebuah nama domain (semisal neogalih.blogspot.com atau andikagalih.tumblr.com) yang masih menginduk pada penyedia, maka lebih baik mengganti nama domain tersebut saja rasanya sudah cukup tanpa perlu berpindah total. Jika tidak berminat berpindah total, maka lebih baik membeli domain saja, dan kita bisa tetap menggunakan tumblr atau blogger kita yang lama. Bagi saya, jika beberapa waktu ke depan berniat mempunyai website sendiri, maka insya Allah akan tetap dasar-dasarnya dari blog ini dengan nama domain baru, serta ganti desain templatenya jika bosan dengan warna hijau daun disini. Mungkin nanti akan berubah menjadi neogalih.com atau andikagalih.com. Ketika tiba-tiba tipis dompet dan belum sempat memperpanjang namun sudah habis masa berlakunya, maka otomatis akan kembali ke alamat blogspot semula. Tidak menutup kemungkinan juga jika menemukan referensi lain maka berpindah di host serta domain sendiri.

"Website pribadi, sepertinya boleh juga."

Posted By Andika Galih Priadi4/09/2015

Sunday, March 8, 2015

Candu Berendam

Filled under: ,

Waktu mendekap dengan cara yang berbeda, sentuhannya halus memberikan candu bagi para perindu. Waktu yang dahulu mengulas beragam warna dalam cerita, kini tersisa satu warna. Satu warna tetaplah berwarna, karena goresannya bisa menuliskan kata. Menulis dengan satu warna pulpen, serta melukis dengan hanya coretan pensil. Ibarat suara, seperti sebuah rekorder yang selalu dibawa saat belajar kesenian di sekolah, meski tak bisa menjadi orkestra, rangkaian nada masih bisa dilantunkan menjadi sebuah lagu. Jadi teringat, lagu andalan yang berulang kali dimainkan dengan recorder waktu SD dulu, karya W.R. Supratman. 

Satu telah berlalu, tinggal beberapa tersisa. Begitu keras di awal, namun waktu mampu melembutkan. Begitulah permulaan, serasa penuh beban, selalu terlihat berat seperti melihat batu yang begitu keras. Tak yakin apakah batunya telah melembut karena ditetesi air tanpa getir, ataukah air yang diperlakukan dingin secara terus menerus telah membekukan dirinya sehingga ia tak lagi menganggap batu keras seperti sebelumnya. Jika menjadi air, tentunya berdoa agar dijadikan es yang kokoh,yang tak segan untuk beradu keras dengan batu, bukan berharap agar batu melembut sementara ia masih bercucuran. 

Tenggelam cukup lama dalam persepsi air, kini telah sampai pada satu. Setidaknya untuk beberapa tersisa harus kembali merasa, juga kembali bersama menyebarkan aroma. Bergelimpangan memang cucurannya, cukup banyak untuk membuat candu berendam dalam renungan kehidupan. Bertanya pada ketakutan, memutar ulang banyak scene untuk mencari perencanaan, demi menemukan dimana  diri yang penuh percaya, berharga, namun tetap tahu.

Berbicara diri, teringat tentang sejumlah cerita. Membaca cerita kembali membuka tanya, ada beragam cara untuk menulis aroma. Cara yang berbeda, mempunyai panutan yang berbeda. Kebakaran jenggotkah, saat api pemicu selalu terbakar mengikuti selewat percikan, dan berganti terpengaruh arah percikan yang berbeda? Tak bertahan pada cara yang sama, kadang begitu tertata, kadang hanya bercerita, kadang mengajak tertawa, namun lebih sering sulit untuk berkata. Sulit untuk dimengerti apa yang sebenarnya dicari, begitu sering mencari jati diri namun terhenti dalam mental block khas sendiri sehingga lupa apa yang dicari. Gersanglah yang didapat saat semua terhenti, berharap satu kata tumbuh menjadi cerita, kini butuh waktu yang kian lama. 

Candu berendam dalam diam, melihat lebih luas ke depan diri namun menusuk ke dalam diri, belajar untuk menjadi yang seharusnya. 

Posted By Andika Galih Priadi3/08/2015

Wednesday, February 18, 2015

Bukan Jam Dinding

Filled under: ,

Jam dinding berbentuk bulat tergantung pada dinding kamar yang mulai mengelupas catnya, dengan goresan warna background coklat yang menghitam menuju pangkal dari jarumnya. Jarum dari jam tersebut berwarna putih polos, seakan ingin menegaskan perbedaannya dari warna background yang gelap, agar ia menjadi pusat perhatian. Jarum memegang tanggung jawab yang sangat besar, ia sangat paham bahwa ia harus tetap bergerak konstan selama mungkin. Saat ia tak lagi bisa bergerak, sebagus apapun kemasan dan penampilannya, secantik apapun dia, orang sudah tak lagi akan melihatnya.

Perpindahan antara detik menuju detik seterusnya ditandai dengan suara “tik tok tik tok”. Jam dinding berputar terus tanpa henti, dan setiap 12 jam dia akan menunjuk kembali pada posisi yang sama. Jika pada pukul 12:00 detik ke nol kita bisa melihat semua jarum berkumpul menunjuk angka 12, maka 12 jam kemudian mereka akan kembali berkumpul di tempat yang sama dan kembali mengulangi pekerjaan untuk 12 jam berikutnya.

Kita bukan lah jam dinding. Ketika setiap 12 jam, jam dinding akan menunjuk waktu yang sama, maka waktu bagi kita tidaklah demikian. Setiap detik kita merupakan waktu yang tidak akan terulang kembali 12 jam, 24 jam, atau berapa jam pun ke depannya. Satu detik berlalu, maka detik itu tidak akan pernah kembali. Karenanya kita mengenal kenangan, yakni sebuah ingatan tentang waktu yang telah terlewati. Karenanya kita mengenal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Apakah dengan kita mengulang kegiatan yang nyaris sama setiap 24 jam, kita seperti jam dinding? Seharusnya tidak, karena kita selalu ingin menjadi lebih baik, karena kita bukan jam dinding.

Posted By Andika Galih Priadi2/18/2015