Wednesday, February 18, 2015

Bukan Jam Dinding

Filled under: ,

Jam dinding berbentuk bulat tergantung pada dinding kamar yang mulai mengelupas catnya, dengan goresan warna background coklat yang menghitam menuju pangkal dari jarumnya. Jarum dari jam tersebut berwarna putih polos, seakan ingin menegaskan perbedaannya dari warna background yang gelap, agar ia menjadi pusat perhatian. Jarum memegang tanggung jawab yang sangat besar, ia sangat paham bahwa ia harus tetap bergerak konstan selama mungkin. Saat ia tak lagi bisa bergerak, sebagus apapun kemasan dan penampilannya, secantik apapun dia, orang sudah tak lagi akan melihatnya.

Perpindahan antara detik menuju detik seterusnya ditandai dengan suara “tik tok tik tok”. Jam dinding berputar terus tanpa henti, dan setiap 12 jam dia akan menunjuk kembali pada posisi yang sama. Jika pada pukul 12:00 detik ke nol kita bisa melihat semua jarum berkumpul menunjuk angka 12, maka 12 jam kemudian mereka akan kembali berkumpul di tempat yang sama dan kembali mengulangi pekerjaan untuk 12 jam berikutnya.

Kita bukan lah jam dinding. Ketika setiap 12 jam, jam dinding akan menunjuk waktu yang sama, maka waktu bagi kita tidaklah demikian. Setiap detik kita merupakan waktu yang tidak akan terulang kembali 12 jam, 24 jam, atau berapa jam pun ke depannya. Satu detik berlalu, maka detik itu tidak akan pernah kembali. Karenanya kita mengenal kenangan, yakni sebuah ingatan tentang waktu yang telah terlewati. Karenanya kita mengenal masa lalu, hari ini dan masa depan.

Apakah dengan kita mengulang kegiatan yang nyaris sama setiap 24 jam, kita seperti jam dinding? Seharusnya tidak, karena kita selalu ingin menjadi lebih baik, karena kita bukan jam dinding.

Posted By Andika Galih Priadi2/18/2015