Sunday, March 8, 2015

Candu Berendam

Filled under: ,

Waktu mendekap dengan cara yang berbeda, sentuhannya halus memberikan candu bagi para perindu. Waktu yang dahulu mengulas beragam warna dalam cerita, kini tersisa satu warna. Satu warna tetaplah berwarna, karena goresannya bisa menuliskan kata. Menulis dengan satu warna pulpen, serta melukis dengan hanya coretan pensil. Ibarat suara, seperti sebuah rekorder yang selalu dibawa saat belajar kesenian di sekolah, meski tak bisa menjadi orkestra, rangkaian nada masih bisa dilantunkan menjadi sebuah lagu. Jadi teringat, lagu andalan yang berulang kali dimainkan dengan recorder waktu SD dulu, karya W.R. Supratman. 

Satu telah berlalu, tinggal beberapa tersisa. Begitu keras di awal, namun waktu mampu melembutkan. Begitulah permulaan, serasa penuh beban, selalu terlihat berat seperti melihat batu yang begitu keras. Tak yakin apakah batunya telah melembut karena ditetesi air tanpa getir, ataukah air yang diperlakukan dingin secara terus menerus telah membekukan dirinya sehingga ia tak lagi menganggap batu keras seperti sebelumnya. Jika menjadi air, tentunya berdoa agar dijadikan es yang kokoh,yang tak segan untuk beradu keras dengan batu, bukan berharap agar batu melembut sementara ia masih bercucuran. 

Tenggelam cukup lama dalam persepsi air, kini telah sampai pada satu. Setidaknya untuk beberapa tersisa harus kembali merasa, juga kembali bersama menyebarkan aroma. Bergelimpangan memang cucurannya, cukup banyak untuk membuat candu berendam dalam renungan kehidupan. Bertanya pada ketakutan, memutar ulang banyak scene untuk mencari perencanaan, demi menemukan dimana  diri yang penuh percaya, berharga, namun tetap tahu.

Berbicara diri, teringat tentang sejumlah cerita. Membaca cerita kembali membuka tanya, ada beragam cara untuk menulis aroma. Cara yang berbeda, mempunyai panutan yang berbeda. Kebakaran jenggotkah, saat api pemicu selalu terbakar mengikuti selewat percikan, dan berganti terpengaruh arah percikan yang berbeda? Tak bertahan pada cara yang sama, kadang begitu tertata, kadang hanya bercerita, kadang mengajak tertawa, namun lebih sering sulit untuk berkata. Sulit untuk dimengerti apa yang sebenarnya dicari, begitu sering mencari jati diri namun terhenti dalam mental block khas sendiri sehingga lupa apa yang dicari. Gersanglah yang didapat saat semua terhenti, berharap satu kata tumbuh menjadi cerita, kini butuh waktu yang kian lama. 

Candu berendam dalam diam, melihat lebih luas ke depan diri namun menusuk ke dalam diri, belajar untuk menjadi yang seharusnya. 

Posted By Andika Galih Priadi3/08/2015